Tampilkan postingan dengan label Buku Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Harian. Tampilkan semua postingan

Pepatah “AKSAYUSHA”


“Gupak Pulute, Ora Mangan Nangkane”

Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti tidak makan nangkanya, tetapi kena getahnya. Secara luas, pepatah Jawa ini ingin menunjukkan sebuah peristiwa atau kiasan yang menggambarkan akan kesialan seseorang karena ia tidak menikmati hasilnya, tetapi justru menerima resiko buruknya. Dapat dicontohkan, ada seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang persoalan yang sedang terjadi di lingkungannya, namun tiba-tiba ia dikorbankan. Mungkin sekali ia dikorbankan karena ketidaktahuannya itu. Sementara orang lain mengambil manfaat dari perkara itu bisa melenggang dengan merdeka seperti tanpa dosa.
Sasha Café, Karangmalang - Meja No. Setunggal

Mari dengarkan! Saya mau berorasi dalam tulisan yang diam ini. Akan saya jelaskan panjang dan lebar tentang makna terdalam dari pepatah jawa di atas. Tulisan singkat ini ada di masing-masing meja di Café Mbak Sasha, Karangmalang. Utara UNY (Universitas Ngeri Ya). Dan masing-masing meja mempunyai “pesan” pepatah yang berbeda-beda. Kebetulan saat ini saya duduk di meja no. 01 (ada tulisannya setunggal). Meja paling pojok bagian selatan dekat dengan kamar mandi, WC, toilet, dan Musholla juga. Awalnya, memang hanya iseng melihat nomor meja karena sedari tadi koneksi internet tidak bisa tersambung. Mas-mas waiter-nya juga hanya bisa pringas-pringis karena tidak paham masalah koneksi  internet (“Kalau koneksi dapur dan pesanan, saya paham,” katanya—maaf bagian ini saya karang sendiri). 

Apa lah boleh dibuat, saya kadung memesan seperangkat makanan dan minuman (rodo nelongso tapi ojo kondo-kondo). Makan dan minum sembari tetap ngotak-ngatik koneksi wireless. Sambil minum sambil on-off jaringan. Sambil ngunyah sambil pencat-pencet tombol CONNECT. Mesakke tenan. Ya sudah lah. 

Sembari tetap menunggu koneksi (Semangat pantang menyerah—karena sudah bayar seperangkat makanan dan minuman) Adzan Magrib sudah berkumandang lagi. Merayu-rayu lagi. Ya kemudian sudah, lah. Saya masih menyimpan dendam dalam-dalam terhadap koneksi internet di café ini. Bakal jadi menu utama dalam mantera-mantera kalamangsa senja-ku. Akan ku adukan langsung kepada sang Widi wasa. 

Maka, dengarkanlah baik-baik penjelasanku tentang pepatah tadi. Agar terungkap segala makna, terbuka tabir-tabir. Setiap huruf yang dirangkai dalam kata, kata-kata yang dirangkai dalam kalimat dan penjelasan, dapat anda tangkap isinya dengan baik dan menghasilkan kebijaksaan yang luar biasa. Sebagaimana yang banyak dijalani oleh para leluhur orang Jawa. Mereka menjadi bijak karena mereka terlebih dahulu mendengar sebelum banyak berkata-kata. Lebih banyak diam daripada mengumbar cerita. Lebih banyak memberi kesempatan daripada meminta. 

Kemudian, pesan saya yang kedua sebelum saya menjelaskan pepatah Jawa tadi, Setelah Anda dengarkan dengan seksama, renungkanlah, dan pahami dengan segenap pikiran dan akan Anda. Karena di zaman paling kontemporer seperti saat ini, banyak orang yang tidak bisa memaksimalkan apa yang ia dapat, apa yang telah ia perjuangkan, karena hanya berpacu dengan hal-hal yang bersifat materi dan belum beralih kepada sesuatu diluar materi yang membungkusnya. Something beyond everything. Jadi, kalau Anda benar-benar berniat mengambil pelajaran daripadanya, maka jangan terpaku pada apa yang akan saya sampaikan, tetapi carilah makna-rupa lain di dalamnya. Niscaya anda akan mendapatinya sebagai sesuatu yang kurang-lebih ada harganya.

Ketiga-kalinya, jika Anda dapat menangkap pesan baiknya, sampaikan kepada orang lain, ajarkan kepada orang lain, tularkan kepada orang lain, termasuk yang bukan orang. Karena ilmu tanpa Amal, bagai pohon tak berbuah. Tak berguna, mendingan mati saja. Memberi kesempatan kepada makhluk lain yang juga ingin hidup. 

Terakhir, ikhlaslah atas apa yang anda tangkap-terima dari pesan-pesan ini. Pun jika anda tidak mendapatkan apa-apa, ikhlaslah. Karena Ikhlas adalah puncaknya makrifat segala sesuatu. Penghujung senja jalan kebaikan menuju Tuhan.

Ehmm…

Sebelum berorasi tentang Pepatah Jawa di atas, saya mau memberitahu kepada anda sekalian bahwa saya sudah pindah ke meja No. 13. Berjudul “Wani Ngalah, Luhur Wekasane”. Jadi, saya tidak jadi menjelaskan pepatah Jawa No.1. Sampai jumpa lain kesempatan…[]

Memulai Kisah Baru


“Bagian tersulit dalam sebuah perkenalan adalah memulai. Dari mana dan bagaimana memulai. Terutama ketika kau ingin mengenali siapa dirimu.”
 
Selalu saja ada hal baru yang ingin dikisahkan. Sekalipun kisah itu tidak ingin diceritakan. Tetapi paling tidak, ia ingin diketahui orang lain. Kisah adalah jiwa yang hidup diantara keluh kesah manusia. Ia menerobos labirin paru-paru, mengalir bersama darah, berdenyut mengikuti irama jantung, dan ikut berpikir di dalam otak.
Babak baru demi babak baru mulai muncul bersamaan dengan terbitnya sang penguasa hari, matanya hari, the Eye of the day. The Sun of the day, sampai orang-orang tak sabar segera menyebutnya dengan Sunday. Sebagaimana sebuah mata, ia tajam menatap kehidupan-kehidupan yang baru saja terbangun dalam sejarah tidur panjangnya.
Yang mula-mula terjaga adalah para hamba Tuhan. Mereka bersujud, memuji, mengingat-ingat Tuhan mereka lalu memanjatkan do’a-doa. Dimulai dengan menyebut nama Tuhan dan diakhiri dengan megucap syukur pada Tuhan pula. Waktu tengah malam, sepertiga awal hingga sepertiga akhir menjadi waktu mustajab berdo’a.
Memohon ampun terhadap dosa-dosa seharian kemarin, karena besok akan ada dosa baru yang siap hadir mewarnai. Berdo’a memohon ampun setelah seharian mengumpat teman-teman, mengusir pengemis yang mengetuk pintu rumah, membohongi orang-orang, sedikit mengurangi takaran timbangan untuk menambah keutungan, sedikit menyombongkan diri karena menjadi yang terbaik dari yang lain, dan sedikit-sedikit yang lain.

Tuhanku,  Kekasihku, sungguh tidak ada kepantasanku masuk dalam surgamu, tetapi kau juga tak sanggup masuk dalam dahsyatnya api nerakamu.
Maka tumbuhkanlah kesadaranku untuk bertobat kepadamu, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau maha pengampun.
Kekasihku, hambamu yang penuh maksiat ini mengetuk pintu-Mu
Bersujud bersimpuh mengakui segala dosa, bersama hati yang memanggil-manggil ampunan-Mu.
Kekasih, jika Engaku mengampuni, maka memamg hanya Engkaulah yang Maha Mengampuni.
Tetapi jika Engkau Usir aku dari keharibaan-Mu, maka kepada siapa lagi aku, kami mereka semua memohon pertolongan?

Tuhan memang sungguh Pengampun dan pemaaf atas kesalahan manusia durhaka. Ia selalu mengampuni manusia-manusia mengakuinya sebagai Tuhan. Tapi, tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya dipanjatkan oleh hati-hati mereka. Pun Tuhan yang maha Tahu apa yang ada di dalam dada mereka semua.

My Mind Journey; Travel Writing Scholarship

 
I imagine if I had lost somewhere I had never seen before. What should I do first? First of all I would look for someone to ask. Since there is no place in this world an unoccupied - if you do not believe please check your own. If no one else, at least you are there, because you are human, right? That's what I can imagine if it was in Turkey.

I have never been there, but I can imagine how hard all at once magnificent life Jalaluddin ar-Rumi. Seeing the remains of pieces of Noah's boat. Sunbathing on the coast of Izmir. Looking closely the River Euphrates and Tigris that had become the center of world civilization. Prayers at the mosque Selimiye, Edirne. Or enjoy fresh splashes of manavgat waterfall . Hmm, very impressive.

I Just Imagine. I was walking down a street in Istambul while enjoying the "rush" of people there. Suddenly all my pocket money stolen by unknown person. I can't go back to the hotel and got lost in the city. In my confusion, I asked a girl about this 'confusing' town. After a long chat, she agreed to drive me back to the hotel. We exchanged business cards and smiles spread with each other. a simple story that I will never forget.

It's My Mind Story. How About You?

Mental Buruh

Menjanjikan sesuatu sebenarnya justru mematikan keinginan untuk memperjuangkan yang lebih baik untuk kita dapatkan. sebagai contoh sedarhana, Bawahan Anda ketika Anda Janjikan untuk Mendapat "liburan di Bali" ketika ia mencapai derajat usaha tertentu, akan berusaha "mencapainya". Bukan Untuk mencapai hasil maksimal, tapi usaha minimal untuk bisa setara dalam derajat tertentu. kata mereka, "mengapa harus berusaha keras jika ganjaran yang kita terima akan sama saja?"

Ini yang saya sebut dengan mental Buruh. Anda semua juga sering mengatakan demikian. saya memimpin anak buah saya dalam tataran yang lebih kecil dalam sebuah organisasi, tapi itu pun tidak kalah susahnya jika dibandingkan dengan memimpin sebuah perusahaan komersial. beberapa hal yang patut saya jadikan catatan adalah :
1.  Mereka semua bekerja berdasarkan keinginannya sendiri. dalam bahasa Agamanya disebut KEIKHLASAN
2.  Mereka tidak Hargai secara profesional berdasarkan hasil kerjanya.
3.  Penghargaan kepada mereka sekedar pengakuan, bukan Reward.
4.  Karena tiga hal diatas, saya tidak bisa melakukan TEKANAN dalam bentuk apapun terhadap kerja mereka.
    saya mengandaikan, sejak dari awal, kita semua bisa melakukan segala sesuatu secara profesional. tanggungjawab musti diselesaikan secara maksimal, bagaiamanapun bentuk penghargaan akhirnmya. Tapi, sekali lagi, jika Anda ingin Perusahaan, organisasi, atau apapun yang anda kelola diupayakan berhasil, maka Anda perlu memberikan REWARD dan PUNISHMENT yang jelas. Karena Orang-orang kita masih bermental BURUH.

    The Wise

    Tuhan tidak membutuhkan
    pemberitahuan berulang dan
    berkepanjangan mengenai
    yang kita pikir kita perlukan,

    ...karena Tuhan Maha Mendengar
    lagi Maha Mengetahui,

    termasuk mengetahui bahwa
    yang kita minta bukanlah
    yang kita butuhkan.

    Bukan banyaknya
    pengulangan permintaan,

    tetapi indahnya
    alasan dari permintaan kita,

    yang menjadikan permintaan itu
    dikhususkan.

    Jal Jinae Sijyo?



    Love Story in the Harvard...//
    berapakali sudah nonton serial ini...//
    Saya Rekomendasikan anda untuk nonton....//
    Sebaiknya mulai dari awal karena ceritanya selalu nyambung, Ga asik kalo dipotong tengah jalan....//

    salah satu drama seri favoritku. cerita tentang kehidupan seorang anak yg kuliah di harvard (kampus no 1 di dunia). pemeran cowo nya ambil jurusan hukum sedangkan pemeran cewenya yg nama aslinya kim tae hee adalah anak kedokteran.

    sperti biasa, drama korea pasti membuat gemas bila sedang ditonton. dan kali ini kim tae hee ini yg bener-bener membuatku gemas. peran dia disini sangat plin plan dan kurang percaya kpd kim yun woo, pacarnya sendiri. she thinks too much dan terlalu complicated, sampai memutuskan pergi tanpa memberikan kabar selama bertahun-tahun. super duper menjengkelkan :d

    anyway, filem ini memberikan beberapa masukan imajinasi berharga buat cerita di novelku sekaligus kehidupan pribadiku. karena inspirasi dari film ini jg aku lebih berniat cari beasiswa s2 ke amrik dan terus mencoba sampai sekarang pdkt dgn anak yg kuliah kedokteran

    segera cari film ini di rental terdekat :)

    Majnun Cinta

     Written By KIAI BUDI

    Sedulurku tercinta,aku tak bosan-bosannya membaca novel Layla Majnun,dari cetakan yang lama sampai cetakan terbaru dari pengarang Hakim Nizhami itu.Bagi Majnun[nama aslinya Qois],cinta didefisinikan dengan sangat konkret,ia mencintai apa saja yang datang dari tempat kekasihnya.Ia mengembara sejak perpisahannya dari sekolah bersama Layla[karena orang tua Layla merasa ternoda kehormatannya],menyebut-nyebut nama Layla,dengan berjalan terseok-seok,ia menulis puisi untuk Layla dan membacanya sepanjang perjalanan.Ia tidak berbicara apa pun kecuali tentang Layla[anak gadis yang bermata hitam,rambut hitam,sehitam malam,makanya disebut Layla],Ketika orang lain mengajaknya bicara,ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Layla.

    Karena banyak orang mengganggunya,mengalihkan perhatiannya dari Layla,Majnun lalu memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali.Ia tinggalkan kampung,orang tua dan sahabat-sahabatnya.Ia membangun sebuah cakruk[gubug].dan melalui jendela kecil dari cakruk itu,ia pandangi selalu rumah Layla.Setiap hari ia petik bunga,ia hanyutkan bunga itu pada lewat selokan yang mengarah ke rumah Layla dengan harapan Layla menangkap pesan cintanya itu.Ia berbicara kepada burung-burung,meminta untuk terbang ke rumah Layla dan mengatakan kepadanya bahwa Majnun tidak jauh dari rumahnya.Ketika angin bertiup dari rumah Layla sampai ke cakruknya itu,ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang,karena angin itu berasal dari rumah Layla.

    Kalau ada anjing yang tersesat datang dari kampung Layla,ia pelihara anjing itu dengan baik-baik,ia rawat dan ia cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu meninggalkannya.Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih,ia cintai dan sayangi,sama seperti cintanya kepada sang kekasih hatinya.Waktu berlalu dan Majnun tidak melihat sedikit pun jejak-jejak Layla,maka kerinduannya semakin menyala dan membara,sampai ia merasa bahwa ia takkan dapat hidup lagi,tanpa sempat melihat wajah Layla.Orang tua Majnun sempat melamarkan kepada Layla,tetapi ditolak,apalagi anaknya itu sudah digelari masyarakat dengan si Gila atau Majnun.

    Ketika dinaikkan haji orang tuanya sebagai terapi agar bisa sembuh,Majnun berdoa di tanah suci itu:"Duhai Yang Paling Terkasih,Raja dari segala raja,Engkaulah yang menurunkan rasa cinta.Aku hanya bermohon satu hal kepadaMu.Angkatlah cintaku setinggi-tingginya sehingga sekiranya aku binasa sekalipun,cintaku dan kekasihku tetap abadi."Setelah haji ternyata tambah parah,ia tinggal di reruntuhan rumah,berambut panjang,ia hidup dengan binatang,ia nyanyikan kecintaannya itu kepada binatang-binatang.Dari kecintaannya kepada layla,ia mencintai seluruh binatang yang ada di rimba raya itu,bahkan tidur pun ia bersama binatang buas,dan binatang buas pun dijinakkan oleh hati yang dipenuhi cinta.Bahkan ketika mendengar kabar Layla tlah dijodohkan,ia menangis sepanjang hari,ia menyanyikanlagu-lagu yang begitu mengharukan,binatang-binatang pun ikut menangis mendengarkannya.Perasaannya kepada Layla tidak pernah berubah,cintanya semakin bertambah-tambah.

    Kemudian Majnun mengirim surat ucapan selamat kepada Layla:"Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta diberikan kepadamu.Aku tidak meminta apa pun sebagai tanda kecintaanmu.Aku hanya meminta satu hal:ingatlah namaku,walau pun engkau sudah memilih orang lain sebagai teman dekatmu.Jangan kau lupakan,ada seseorang ditempt lain yang sekiranya tubuhnya dirobek-robek sekalipun,ia akan tetap menyebut namamu:Layla..".Sampai pada akhirnya Majnun mendengar kematian Layla,ia jatuh pingsan,beberapa hari ia tak sadarkan diri.


    Dengan tertati-tatih ia datang ke kuburan Layla,di situ ia menangis berhari-hari sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawanya.Tubuh Majnun tergeletak di kuburan Layla selama etahun,tidak ada yang tahu,sampai ketika diadakan khoul kematian Layla.Mayat Majnun akhirnya dikuburkan bersama dengan mayat Layla dalam satu kubur sebagai penghormatan cintanya,di tempat yang sama,di tempat abadi itulah,keduanya bertemu....Kawan-kawan,lalu ada seorang sufi bermimpi melihat Majnun berada disamping Tuhan,dan Tuhan membelai-belai kepalanya dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.

    Majnun disuruh duduk di singgasanaNya, kemudian Tuhan berkata kepadanya:"Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan nama Layla,setelah kau teguk anggur cintaKu". Sang Sufi itu terbangun dalam keadaan cemas. Ia telah melihat osisi Majnun,lalu bagaimana dengan posisi Layla? Tuhan lalu mengilhamkan ke dalam hatinya bahwa posisi Layla lebih tinggi lagi, karena Layla menyembunyikan kisah cintanya dalam hatinya itu....Allahu Akbar!!!!

    Why Should We Be Here With Maiyah?

    OLEH:  E. LAILATUL  FAIZAH

    Ba’da Isya….kami sudah berkumpul ,duduk khusyuk bersila, beralas tikar atau kain terop sederhana. Ya,kulihat kanan dan kiriku….orang-orang dengan berbagai penampilan tua-muda, laki-perempuan, dari para akademisi hingga “wong-wong ndeso” orang-orang  awam dan polos yang datang dari berbagai kota dengan ketulusan mereka sudah siap memulai “ritual rutin” kami.

    Ayat-ayat Qur’an pun dikumandangkan, disusul dengan bacaan sholawat dan wirid yang membuka silaturahim kami setiap bulannya di “Malam Padhang Bulan” itu. Hati kami menyatu dalam kebersamaan mengingat  Robb,sumber dan muara akhir hidup kami, juga  kerinduan pada Rosululloh, merangkul kami dalam sebuah kebahagiaan batin yang luar biasa!

    Kami tidak berhenti  hanya “hanyut” dalam suasana magis lantunan dzikir dan wirid itu, namun dalam “majelis ilmu maiyah” ini kami disadarkan bahwa jalan  Robb dan Panutan kami , Rosululloh, untuk mencapai kebahagiaan , sebagai  solusi bagi setiap permasalahan kehidupan itu harus kami pelajari, kami kupas sari dan maknanya dari ayat-ayatNya, Al Quranul karim, agar bersifat applicable dan solutif dan bisa diterjemahkan dalam kehidupan kami.  Alhamdulillah, bersama Cak Fuad, kami berkesempatan bersama “belajar mengeja “ ayat-ayat Alloh dan juga hadits-hadits Rosululloh tsb.

    Kesyukuran kami dalam setiap “maiyah” di majelis ini semakin bermakna setiap kali Cak Nun hadir dengan kesabaran dan keistiqomahan Beliau “mentafsirkan” ayat-ayat Kauniyah Alloh dalam fenomena-fenomena kontemporer yang terjadi di sekitar hidup kami. Problematika umat yang sangat kompleks, isu-isu terkini yang selama ini terasa begitu berat , menyesakkan dada dan memusingkan publik, dibahas dengan bahasa yang ringan, jenaka dan sering juga “konyol”, juga analog-analog yang simple serta mengena , membuat semua permasalahan tsb bisa kami pahami dengan hati dan pikiran yang jernih. Tak jarang juga,kami tertawa-tawa bersama, menertawai “ketololan-ketololan”  yang secara sadar atau tidak kita lakukan secara “berjamaah’ sebagai sebuah bangsa! Dan…itu semua membuat kami bersama sadar akan “PR-PR “yang harus kami kerjakan  sebagai “oleh-oleh”maiyah setiap bulannya:”Perbaiki umat mulai dari diri, keluarga dan lingkungan kita sendiri dengan kejernihan hati dan jiwa ,dengan kebersamaan , dengan MAIYAH untuk jadi diri dan “bangsa” yang merdeka dan mandiri!

    Kau ini Siapa?

    Hari ini dari sudut kerapuhan jiwaku, tiba-tiba kau datang. Kaukah yang aku tunggu?
    Kau ini siapa?
    Hadir dalam jiwaku di tengah malam
    Tiba-tiba menyelinapkan bait-bait kerinduan
    Menari-nari memperindah mimpiku
    Menebar harum di dalam sukmaku

    Kau ini siapa?
    Hadir dengan begitu indahnya
    Membius kesendirianku
    Membuaiku di atas awang-awang
    Merebut kesadaranku

    Kau ini siapa?
    Melukis pelangi di hatiku
    Meniupkan hawa kasih sayang di telingaku
    Menyemai benih-benih asmara
    Mengalirkan harapan dalam darahku

    Kau ini siapa?
    Memindahkan mentari ke dalam sanubariku
    Mencairkan kegalauanku
    Kau ini siapa?
    Kaukah yang hadir untukku?

    Pagi hari, kabut tipis, matahari terbenam dan pohon jati yang meranggas adalah simbol-simbol dari semua cinta yang pernah terlahir. Meskipun sebenarnya cinta itu adalah satu dan hanya dimiliki oleh-Nya, tapi cinta terlahir dan terpencar di mana-mana, dengan berbagai bentuk dan rupa. Adapun simbol-simbol yamg menyertainya hanyalah bungkus kosong belaka. Dan cinta berkata padaku bahwa ia sangat benci denga semua bungkus yang melekat di tubuhnya. Cinta lebih suka telanjang. Cinta juga berkata padaku bahwa ia tidak dilahirkan di surga. Sebab cinta memiliki penyatuan antara baik dan baik, baik dan buruk, buruk dan buruk, untuk menjadi satu kesatuan yang menghanyutkan, memabukkan dan terkadang menyesatkan. Sedangkan surga tidak akan pernah menerima semua hal yang buruk dan menyesatkan. Cinta juga tidak terlahir di neraka. Sebab cinta bukanlah tumpukan dosa-dosa, kesalahan, petaka dan angkara. Meski terkadang cinta juga dapat membawa semua kehancuran dan prahara yang paling dahsyat dalam satu kedipan mata.

    My Virtual Identity

    Nama lengkap : Amoris Firhan Luckys. Namaku mungkin terdengar aneh begi sebagian orang. Memang nama itu campuran dari nama pemberian bapakku dan duta besar Amerika.  Kata Amoris diambil dari amor dan ris. ‘Amor’ artinya dewa/dewi cinta, ‘ris’ diambil dari nama Ibuku, RIStanti. Kata Firhan adalah nama turun temurun dari ayahku. Kalo bahasa kerennya nama marga.  Sedangkan kata ‘Luckys’ adalah nama pemberian Duta besar yang artinya keberuntungan yang banyak. Kalau suda tahu sejarahnya, nama itu jadi tidak aneh lagi.
    Nama Panggilan : panggil aku tiga kali morisa, morisa, morisa.  Panggilan yang lebih mirip nama cewek. Kadang aku jengkel juga dibilang cowok jadi-jadian, karena nama panggilannku kayak cewek.
    Tempat Tanggal Lahir : Kata orang-orang, terutama bapakku, aku dilahirkan tanggal 22 April 1985 di kedutaan besar Amerika Serikat. Sewaktu Ibu dan bapakku di ajak kawannya bertamu ke sana. Bapak memang seorang yang pandai berbahasa Inggris, itulah sebabnya ia banyak kenalan dari luar negeri. Walaupun tinggal di sebuah pulau terpencil di sebelah selatan Gresik, Bawean, aku dibesarkan dengan kasih sayang seorang Bapak. Kata Bapak, ibu meninggal sewaktu melahirkanku. Ketika berkunjung ke kedutaan Amerika di Jakarta, ibu terpeleset sewaktu menaiki tangga. Seketika itu juga terjadi pendarahan. Untung ada dokter di kedutaan yang langsung menanganinya sehingga aku selamat. Namun, ibu akhirnya meninggal karena pendarahan hebat. Itu yang membuatku mempunyai dua kewarganegaraan. Warganegara Indonesia, sekaligus warganegara Amerika Serikat.
    Asal    : kata Bapak dan kakekku, asalku dari Amerika, lebih tepatnya kedutaan Amerika. He… he.. he… walaupun aku orang kampung, tapi aku boleh bangga dong karena menjadi warga negara Amerika juga. Selama 18 tahun hidup di sebuah desa terpencil, di sebuah pulau terpencil yang hampir dilupakan bangsanya. Pulau Bawean… sebelah selatan kota gresik. Perjalanan perahu ditempuh selama kurang lebih tujuh jam.
    Nama Bapakku : Muhammad Gus Firhan. Dia adalah seorang pelaut terkenal di kampungku, tokoh masyarakat yang disegani. Kalau ada turis datang ke Bawean, dialah yang menyambut karena di Bawean tidak ada yang bisa bahasa inggris kecuali bapakku. Dia seorang pekerja yang ulet. Dia juga seorang pembelajar sejati. Walaupun hanya lulusan Sekolah Rakyat, dia banyak belajar dari buku-buku yang dibelinya dari Gresik atau Surabaya. Hasil menangkap ikan sebagian dibelikan buku. Maka tak heran jika rumahku dijuluki oleh orang kampung sebagai Perpustakaan Pulau Bawean. Karena di Bawean tidak ada perpustakaan resmi pemerintah.
    Nama Ibuku    : Rr. Ristanti. Dia keturunan keraton Ngayogyakarta yang sudah lama tidak berhubungan dengan keluarganya. Ibu dianggap membangkang karena menikah dengan Bapakku yang hanya seorang nelayan. Apalagi tinggalnya di pulau terpencil. Ibu dikucilkan dari keluarganya. Mungkin itu sebabnya Ibu sudah tidak mau lagi menyandang gelar Rara lagi, karena itu hanya akan menyakitkan hatinya. Ibu meninggal ketika melahirkan anak pertamanya, yaitu aku sendiri, diusia yang masih relatif muda, 23 tahun. Aku sayang engkau Ibu…
    Cita-Cita       : Menjadi bagian yang tak pernah terlupakan dari sejarah.
    Motto Hidup : Kata Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Kataku, “ Hidup seribu tahun dengan sejuta perubahan”
    Warna favorit    : Black Soul...
    Musik Favorit    : Orkestra (perbedaan alat musik menjadikannya simponi syahdu)
    Siapakah aku?  : Misterius, tidak bisa ditebak, tidak ingin bergantung pada apapun dan siapapun. Aku paling suka dengan gaya selengekan yang unik, kadang-kadang norak juga. Orang mungkin mengenalku sebagai orang yang ramah, agak pendiam, tapi juga mudah bergaul dengan orang asing. Suka membuat lelucon ketika berkumpul teman2 sejawat. Suka berpuisi, pantun, dan sesuatu yang mengandung kata-kata indah…
    Yang paling aku suka  : membuat orang lain tertawa…
    Yang paling aku benci : pengkhianatan, ketidakjujuran… walaupun kadang-kadang aku tidak jujur.. he… he… he…
    Kriteria cewek     : Yang penting HATInya (HArta dan properTI maksudnya???).

    Udah dulu perkenalannya. Lain kali diputus lagi, eh… disambung lagi …

    Dimanakah saya berada?

            Tulisan ini ingin keluar begitu saja dari rahim otak saya. seharian ini saya hampir tidak berbuat apa-apa. Tapi saya sibuk sekali. Ada urusan ini, masalah itu, akhirnya hanya banyak percakapan, dan hari pun hanya menyaksikan dan segera berganti lagi. Saya tidak melakukan apa-apa, Tapi saya sibuk sekali.

            Dimanakah saya berada? saya berada diruang imaginasi. Badan saya tertelungkup di sini, tapi jiwanya melayang-layang ke negeri antah barantah. Benar-benar inabsensia..... Ada dan tiada sama saja. Tidak melakukan apa-apa, tapi merasa sibuk sekali. 

            Terjaga kembali ketika pentul jam sudah agak tinggi, menyaingi panasnya nanar matahari pagi-eh sudah siang ternyata. Ujian Semester terakhir ini membuat otakku semakin aneh dengan dunia Mahasiswa dan tetek-bengeknya. Arch bridge yang baru dibuka dua hari yang lalu itu masih baru, beberapa mahasiswa masih enggan untuk sekedar lewat. [bagi yang takut ketingian, mending jangan lewat sana, karena lokasinya sangat cocok untuk ajang percobaan bunuh diri--lumayan tinggi]. Ada dimanakah saya? Saya ada di sini, tapi mimpi saya terbang di negeri para petualang, entah dimana. Dan saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.



    Dosenku pun terlalu nyentrik kalo sekedar dikatakan aneh bin ajaib. bunyi soal ujiannya adalah
    1. Selama mengikuti matakuliah ini, buku-buku apa saja yang sudah anda baca? sebutkan Judul, Pengarang, penerbit, dan tahun terbit.!
    2. Dari buku-buku yang Anda baca, uraikan salah satu isi buku tersebut!
    3. Teori apa yang ditawarkan dari buku tersebut? Jelaskan!
    4. berikan Komentar ato kritik terhadap teori itu!

             Mudah--tapi tidak semudah itu. Tidak susah tapi cukup membuat ANDA memutar taktik mengarang bebas gaya baru yang tidak bisa sembarangan. Di luar dugaan, Something special, different to difference...  I like U, Sir. But, once again, it's not about the Exam. It's about, Where I am? Saya ada di kelas saat exam, Tapi pikiran saya melanglang buana. Di negeri kopi, negeri Rokok, negeri gitar, negeri Antah barantah. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.

             Bercakap-cakap hingga banyak cakap dengan Petugas Cleaning Service menjadi Agenda kehidupan selanjutnya. Berlama-lama menikmati dunia "kelas bawah" dengan canda dan tawa lepas. Sesekali menyindir Pak Rektor dengan gaya khas mereka. Nikmat sekali. Pak Dekan baru yang melihat kami tersenyum mengulum. Kami tetap Asyik dengan dunia yang sederhana. "Sapu, Serbet, dan kain pel. itu Dunia kami", katanya. Tidak perlu banyak kenikmatan yang mewah untuk membuat mereka senang. Cukup sebatang sigaret, dan obrolan ringan bahwa keberadaan mereka masih diperhatikan. Itu saja. Namun, sekali lagi, ini bukan tentang Para petugas Cleaning Service. Ini adalah tentang Dimanakah saya? Saat saya berbincang memang badan saya teronggok disana bersama mereka, tapi pikiran saya tertambat di BENUA lain, entah dimana. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.

             Badan saya diajak bertualang bersama Tuhan di alam rohani. Tapi bathin saya masih berada di dunia. saya sangat kecewa tidak mengajaknya ke sini. Kata orang-orang yang pernah membawa serta bathinnya bersama Tuhan, perjamuannya indah sekali. sayang sekali, bathin saya masih terlelap di sini. menunggu janji kekasihnya yang akan menjemputnya pulang. Saya semakin bingung. mungkin Anda juga, tapi Anda jangan bingung, biar saya saja.

    Saya tidak melakukan apa-apa, Tapi saya sibuk sekali.

    Dimanakah Gerangan jiwa saya berada?
    Negeri Antah barantah mana yang akan saya kunjungi lagi?

    ...Jasad saya teronggok disini, Bersama mereka, Tapi bathin saya Entah dimana.
    Sampai sekarang, saya masih mencarinya......// PK.12.14

    Dimanakah ANDA berada sekarang?

    .....[]