Tampilkan postingan dengan label Cerita Yang Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Yang Pendek. Tampilkan semua postingan

Dimanakah saya berada?

        Tulisan ini ingin keluar begitu saja dari rahim otak saya. seharian ini saya hampir tidak berbuat apa-apa. Tapi saya sibuk sekali. Ada urusan ini, masalah itu, akhirnya hanya banyak percakapan, dan hari pun hanya menyaksikan dan segera berganti lagi. Saya tidak melakukan apa-apa, Tapi saya sibuk sekali.

        Dimanakah saya berada? saya berada diruang imaginasi. Badan saya tertelungkup di sini, tapi jiwanya melayang-layang ke negeri antah barantah. Benar-benar inabsensia..... Ada dan tiada sama saja. Tidak melakukan apa-apa, tapi merasa sibuk sekali. 

        Terjaga kembali ketika pentul jam sudah agak tinggi, menyaingi panasnya nanar matahari pagi-eh sudah siang ternyata. Ujian Semester terakhir ini membuat otakku semakin aneh dengan dunia Mahasiswa dan tetek-bengeknya. Arch bridge yang baru dibuka dua hari yang lalu itu masih baru, beberapa mahasiswa masih enggan untuk sekedar lewat. [bagi yang takut ketingian, mending jangan lewat sana, karena lokasinya sangat cocok untuk ajang percobaan bunuh diri--lumayan tinggi]. Ada dimanakah saya? Saya ada di sini, tapi mimpi saya terbang di negeri para petualang, entah dimana. Dan saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.



Dosenku pun terlalu nyentrik kalo sekedar dikatakan aneh bin ajaib. bunyi soal ujiannya adalah
1. Selama mengikuti matakuliah ini, buku-buku apa saja yang sudah anda baca? sebutkan Judul, Pengarang, penerbit, dan tahun terbit.!
2. Dari buku-buku yang Anda baca, uraikan salah satu isi buku tersebut!
3. Teori apa yang ditawarkan dari buku tersebut? Jelaskan!
4. berikan Komentar ato kritik terhadap teori itu!

         Mudah--tapi tidak semudah itu. Tidak susah tapi cukup membuat ANDA memutar taktik mengarang bebas gaya baru yang tidak bisa sembarangan. Di luar dugaan, Something special, different to difference...  I like U, Sir. But, once again, it's not about the Exam. It's about, Where I am? Saya ada di kelas saat exam, Tapi pikiran saya melanglang buana. Di negeri kopi, negeri Rokok, negeri gitar, negeri Antah barantah. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.

         Bercakap-cakap hingga banyak cakap dengan Petugas Cleaning Service menjadi Agenda kehidupan selanjutnya. Berlama-lama menikmati dunia "kelas bawah" dengan canda dan tawa lepas. Sesekali menyindir Pak Rektor dengan gaya khas mereka. Nikmat sekali. Pak Dekan baru yang melihat kami tersenyum mengulum. Kami tetap Asyik dengan dunia yang sederhana. "Sapu, Serbet, dan kain pel. itu Dunia kami", katanya. Tidak perlu banyak kenikmatan yang mewah untuk membuat mereka senang. Cukup sebatang sigaret, dan obrolan ringan bahwa keberadaan mereka masih diperhatikan. Itu saja. Namun, sekali lagi, ini bukan tentang Para petugas Cleaning Service. Ini adalah tentang Dimanakah saya? Saat saya berbincang memang badan saya teronggok disana bersama mereka, tapi pikiran saya tertambat di BENUA lain, entah dimana. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi saya sibuk sekali.

         Badan saya diajak bertualang bersama Tuhan di alam rohani. Tapi bathin saya masih berada di dunia. saya sangat kecewa tidak mengajaknya ke sini. Kata orang-orang yang pernah membawa serta bathinnya bersama Tuhan, perjamuannya indah sekali. sayang sekali, bathin saya masih terlelap di sini. menunggu janji kekasihnya yang akan menjemputnya pulang. Saya semakin bingung. mungkin Anda juga, tapi Anda jangan bingung, biar saya saja.

Saya tidak melakukan apa-apa, Tapi saya sibuk sekali.

Dimanakah Gerangan jiwa saya berada?
Negeri Antah barantah mana yang akan saya kunjungi lagi?

...Jasad saya teronggok disini, Bersama mereka, Tapi bathin saya Entah dimana.
Sampai sekarang, saya masih mencarinya......// PK.12.14

Dimanakah ANDA berada sekarang?

.....[] 

GELISAH

Berada dalam palingan asmara,
aku mengutukmu, wahai rindu.
ini memang hampa,
tetapi jangan kaitkan dengan rasa cinta yang ada.

Menjadi Guru Profesional

Suatu malam, seorang teman dari Fak. Saintek meminta saya membantunya dalam mengerjakan tugas kuliahnya. Dia dari jurusan Kependidikan, memang. Bahasannya tentang KODE ETIK GURU INDONESIA. Singkatnya, Tugas Kuliah itu berjudul, bagaimana komentar Anda mengenai Kode Etik Guru Indonesia. Lantas Saya dan beberapa teman yang lain memutuskan untuk mengerjakan tugas tersebut di sebuah Cafe hotspot. Itung-itung sambil cari data gratisan.... 

Dalam sebuah perbincangan di sebuah Cafe Hotspot dengan sebuah santapan dan sebuah permasalahan untuk menemukan sebuah pemecahan tentang sebuah kode Etik bernama PROFESIONALISME GURU. -kebanyakan sebuah-. Membaca kembali Kode Etik Profesionalisme Guru mengingatkanku beberapa tahun lampau, ketika masa-masa SMP-SMA. Saya ingin mengenang mereka dalam tulisan ini. Kata seorang Bijak, mengenang bukan berarti membeku di masa lalu, tetapi, bertindak dan berjuang untuknya. Dan saat ini, saya ingin berjuang atas perjuangan mereka dulu. Paling tidak dengan tulisan ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------

GUS JAKFAR

My Grand Teacher................Mustofa Bisri
Kata kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri, “cerita Kang Solihin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. Saya sendir tidak tahu apa maksudnya”

"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, "Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bias melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!'. Tak lama kemudian orang sabrang itu dating melamarnya."

"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet, "kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."

"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."

"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!' Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi."

"Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.

"Mungkin sa ja," jawab Ustadz Kamil, "makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."

***

MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, "wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"

"Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."

"Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."

Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabis wiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar, rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa keseganan, was-was, dan rasa takut.

Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Us tadz Kamil berterus terang
mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."

"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti, "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau."

"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.

"Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita, maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan. Nama Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."

"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk. 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak disana itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."

Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian
melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi 'Ahli neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya me ncoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila."

"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata mereka."

"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak
hingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang."

"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orang wanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok.

Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum
penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!'. Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya.' Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan tangan."

"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari, 'Minum kopi ya?' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, yu!' kata kiai kemudian kepa da wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!' Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."

"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang- orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah. 'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."

"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai
di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katan ya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang
mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk.

Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang ber upa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap- sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.' Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba kiai bangkit, 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."

"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya, 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau dimana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya, 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan kemana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."

Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.

***
Rembang, Mei 2002

SAYA CUMA KAMINO

Salat keno, ora yo keno
Pokoke mbela bung Karno
Salat keno, ora yo keno
Sing penting mbelo bung Karno.
(Salat boleh, tidak pun tak soal, yang penting membela Bung Karno.)
 Di tahun 1960-an, salawat Badar yang dikorup ini pernah populer, termasuk di Bantul. Ini "ular" berkepala dua: kultus pada Bung Karno dan ejekan buat kekuatan Islam. Terutama, tentu saja, NU yang dianggap pemilik asli "lagu" ini.
 Bukan karena "pembajakan" lagu itu bila di ujung desa sana lalu terjadi duel antara Pemuda Ansor dan Pemuda Rakyat atau Marhaen. Saling ejek dan benturan fisik, sebagai akibatnya, merupakan kelaziman waktu itu. Dan biarpun pahit, malah harus diakui bahwa semua itu berfungsi sebagai gladi resik buat menyambut "Bharatayudha" yang kelak meletus di tahun 1965.
 Berita pemuda berjaket merah atau hitam roboh oleh pemuda "kita" yang bersabuk jimat dari kiai di tahun 1960-an itu bisa membangkitkan semangat "juang" dan kentalnya fanatisme ideologi buat orang desa yang tak tahu arti politik sekalipun. Sekurangnya jadi semacam penegasan akan betapa benarnya pilihan ideologi yang kita ambil.
 Coretan di tembok-tembok rumah, di pagar-pagar, dan juga pada jembatan di ujung desa merupakan variasi lain dari benturan ideologi waktu itu. Bila kita dapati pagi hari tulisan "Marhaen Menang" atau "Hidup PKI", esoknya pasti sudah dijawab: "Islam Jaya" atau "Ganyang PKI". Tapi bila yang kita temui hanya "shalawat": "Hidup Bung Karno PBR kita", atau "Hidup Ganefo", dus netral, semua kekuatan politik yang ada di desa ayem saja.  
Dengan mata seorang bocah yang belum lagi tamat SD, saya menyaksikan suasana diam yang tegang. Guru-guru saya, pihak Muhammadiyah yang mengharamkan segala jimat itu, diam-diam juga pergi ke kiai minta "diisi" kadigdayan kanuragan. Doktrin pokok: "Mintalah langsung kepada Allah, jangan lewat perantara", pernah tak berlaku. Perbedaan paham antara Muhammadiyah dan NU dalam soal jimat, usali, witir, tarwih, doa talkin praktis terlupakan selama menghadapi common enemy.
 Rapat raksasa pun disimak. Tiap orang lalu peka terhadap perbedaan warna jaket. Dan tiap-tiap "yang bukan kita" dicurigai. Tak peduli bahwa itu menyangkut tetangga sebelah.
 Pemuda, atau bocah yang "tak sabar" menunggu dewasa, ingin tampil heroik. Begitu juga Kang Kamino. Anak mbah Wongso Dadung yang buta huruf ini pun tak mau ketinggalan. Ia terpesona oleh palu arit: lambang PKI, yang adalah barang kongkret buat orang macam dia. Harus diakui memang, PKI tangkas merumuskan ide-ide abstrak ke dalam bahasa Kang Kamino. Bermula dari gurauan bahwa "wong tani" pegangannya harus palu dan arit, dan bukan Lintang Rembulan (bintang bulan, Masyumi) atau gambar Jagat Lintang Sanga (bola dunia berbintang sembilan, NU) karena petani bekerja dengan arit, ia berubah makin sinis pada Islam akibat "pergaulan bebas" dengan PKI.
 Setelah makin aktif menghadiri rapat dan main ketoprak (Lekra), ia ganti nama menjadi Kaminonov. Edan. Selanjutnya blak-blakan ia membuka diri sebagai kaum salat keno ora yo keno. Ia juga jadi terampil mengejek lawan sebagai kaum nggoiril (dari kata ghairil ... dalam surat Al Fatihah).
 Kami pun "mengintip". Kang Kaminonov jarang di rumah, akhirnya. Kalau pulang selalu bersama empat atau lima kamerad lain. Anak mbah Wongso Dadung ini sudah jadi orang penting rupanya. Konon, pernah suatu hari ia kedapatan bicara tentang pembagian sawah dan rencana aksi sepihak.   Tapi, sawah belum lagi dibagi, Gestapu meletus. Islam bangkit. Perang sabil diteriakkan. Di berbagai daerah kemarahan tak terkendalikan. PKI disembelih.
 Namun, segala puji hanya bagi-Mu, darah tak menetes di desa saya. Pak Lurah, biarpun pernah diancam PKI, melindungi mereka. Prinsipnya semua saudara. Lagi pula, PKI di desa saya cuma golongan cepethe. Pak Lurah sering bilang, mereka cuma ikut-ikutan. Sebagian hanya senang karena tiap rapat ada makan. Tahu apa mereka tentang politik?
 Benar juga. Digertak petugas untuk wajib lapor pun mereka sudah menggigil. Betul, ada di antara mereka yang fanatik, tapi untuk mati demi partai orang masih mikir. Maka Kaminonov pun mengaku, akhirnya mendengar suara daun gugur pun dia kaget. Dikiranya sepatu tentara. Pendeknya musuh telah tak berdaya. Tokoh-tokoh tua bilang, perang tak layak lagi diteruskan. Petuahnya, "Islam itu selamat dan menyelamatkan". Dan tiap khotbah, Pak Lurah berseru "Kita memang punya hukum qisas: bunuh balas bunuh. Tapi memberi maaf itu lebih ksatria ...".
Tuhan tiba-tiba menjadi kongkret. Termasuk buat Kaminonov. Haji Thohir yang "sepuh" itu rajin mengajarinya ngaji. Ia merawat rohani "si anak hilang" yang telah kembali. Maka, tak lupa tiap pengajian usai, ia ulang petuahnya: "Lembaran yang sudah dibaca ditutup. Begitu juga masa lalumu."
 Kaminonov tunduk sambil lirih mengucap: "Nggih, nggih, Pak Kaji, insya Allah." Fasih dia. Dan bila orang menyindir nama Rusianya, ia cuma senyum. Jawabnya: "Lembaran lama sudah ditutup. Saya cuma Kamino ..."

Ah, Katakan aku paling benar...!!!

Di dalam kehidupan dimana hampir semua orang berkata; “Akulah yang paling benar!”
Tanpa sadar, seorang janin dalam kandungan dengan leluasanya menghisap “darah ibu”-nya.
Darah?
Ibu?
‘Darah’ yang mana?
‘Ibu’ yang mana?
Mana yang ‘darah’?
Mana yang ‘Ibu’?
‘Mana’ yang ‘mana’?
Sementara otak dan hati terus berkelahi dengan berbagai istilah buatan manusia…
“Akankah hakikat manusia terecipta menjadi manusia yang durhaka?”

Katakan: “Tidak!”
Itupun jika kau kini menjadi orang yang paling alim di hadapannya,
Namun masih saja kau bergantung pada dengan manja berkata;”Ma, minta uangnya dong, ku pingin naik haji. Khan gengsi dilihat temanku yang pada sudah berpangkat H”
Maka, masihkah kamu mengaku sebagai orang paling alim di hadapannya,
Dan di hadapan teman-temanmu?...

Katakan; “Tidak!”
Itupun jika kau kini menjadi tokoh di kampungmu..
Namun masih saja kau memainkan kartu Tarot di tetangga kampungmu dengan lantang berkata:
“Hey, coy berapa nomor hari ini?! Ayolah taruhan kok setengah-setengah..”
Maka, masihkah kamu mengaku kutu sebagai tokoh terpandang bagi singgasana hatimu.

Katakan: “Tidak!”
Itupun jika kau kini menjadi orang yang paling intelek di kantormu.
Namun, masih saja kau pintar memainkan otak dan jemarimu untuk menambah dan mengurangi angka dalam laporanmu., sambil berkata: “Demi keamanan bersama…”
Maka, masihkah kamu mengaku otakmu adalah segala-galanya bagimu.
Sedangkan disana terali besi tengah merindukanmu.

Ah, lain kali akan ku katakan dengan lantang.
“Ya, aku adalah anak yang durhaka!”
Aku menendang ‘ibu’-ku, aku memukulinya, menamparinya hingga pingsan. Namun, masih saja aku bangga dengan apa yang aku lakukan,
.

Ah, lain kali ku katakan dengan lancang lagi
“Ya. aku adalah orang durhaka karena korupsi berjuta-juta nilainya”
Aku merekap anggaran, membelanjakannya, menikmatinya, lalu melenyapkannya hingga semua orang bertepuk riuh dengan ulahku itu.
Namun, masih saja mereka bertepuk mendukungku dengan argument yang ‘bla-bla-bla’.
Karena yang aku korupsi adalah hasil korupsi orang kesekian.

Ah, lain kali kuulangi lagi dengan lebih keras lagi tegas.
“Ya, aku adalah seorang pemberontak semua tatanan tanpa ampun.
Aku berargumentasi, menyelidiki, mengkritisi, memprovokasi, memberontak hingga semuanya runtuh tanpa sisi. Tanpa tahu dari sisi mana aku akan dikepung longlongan anjing pelacak.
Namun, masih saja ku terpaku dengan tangan terkepalku hingga beruban rambut ketiakku.
Karena yang ku berontak adalah struktur yang penuh ‘kongkalikong’ yang bangga atas nama.

Masihkah aku, kau, kita, mereka berkata: “Aku, e, kau, e, kita, e, mereka yang paling benar!”?

Jalan Manalagi, Pengembara?

Jalan manalagi yang bakalan kau tempuh , pengembara ?. 
Sekarang kau sangat tak berguna. 
Mereka tuli, bisu, dan buta. Cinta?! 
Cinta manalagi yang bakalan kau cari, Pengembara ?
Sekarang tak ada cinta lagi. 

Sudahlah tak perlu gusar. 
Tak perlu ada lagi suatu perjanjian dengan siapapun. 
Mereka semua bukan untukmu. Kejar kereta yang lain untuk cintamu yang sebenar. 

Lupakan! 
Kereta senja segera berangkat. 
Nyanyikan sebuah madah perjalanan, hilangkan gundahmu! 
Pengembaraku. 

BIARKAN AKU MENJADI SUARAMU

Treat every love as last love...

Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya
dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasa n mengenai latar
belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan
sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya..... Karena tekanan
dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya.
Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus
bertanya, "Seberapa besar kamu mencintaiku?" Sang pemuda tdk begitu
pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-
komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda
selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda
selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya....

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia
bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia
pergi, dia melamar gadisnya, "Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan
kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu
setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu,
saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar meny etujui
hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?" Si gadis setuju, dan
keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya
merestui hubungan mereka. Sebelum pemuda itu berangkat, mereka
bertungan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman
dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN.....

Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-
kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap
keadaan. Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis
sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan
diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari
betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya,
dia berusaha untuk menghibur mereka. Tetapi dia menemukan... bahwa
dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu..... Menurut dokter
kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya
bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak
dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan...

Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu...Ketika akhirnya
dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia
kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon
telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar
buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis
sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi
menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia
mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon
dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata... Ayahnya tidak
tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap
bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia...

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia
berusaha melupakan sang pemuda... Suatu hari sahabatnya
memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarin ya ke
mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana
dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya.... Lebih
dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya
sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan
menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan
hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum
dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul
di hadapannya.Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan
bahwa.... Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk
mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa
aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku
menjadi suaramu.

MENCARAI DIRI SENDIRI

Kenapa aku harus mencari?

Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku

Yang kucari adalah diriku sendiri!

GIGI EMAS

Ada seorang nenek kaya sedang berobat ke Dokter Gigi karena giginya mengalami
masalah dan harus dicabut.
Dokter: "Gigi yang mana yang sakit nek!?"
Nenek: "Yang atas dok!"
Dokter: "Coba saya lihat... wah ini harus dicabut nek!"
Nenek: "Terserah dok asal sembuh..."
Lalu dokter mencabut gigi nenek.
Dokter: "Udah, gak sakit kan?"
Nenek: "Iya, makasih ya dok? Berapa biayanya?!"
Dokter: "Udah gak usah bayar nek!"
Nenek: "Makasih dok, semoga kebaikan anda mendapat balasan dari Tuhan."

Nenek itu pulang ke rumahnya, sesampainya dirumah, anaknya bertanya.

Anak: "Gimana bu, udah baikan??"
Nenek: "Yah lumayan, tadi dokternya baik banget cabut giginya gratis nak!"
Anak: "Gratis bu? Coba saya lihat yang mana yang dicabut... Hah! gigi emas ibu
mana???"

SHALAWAT

Seorang nenek suatu pagi diminta tetangganya untuk menjadi juru masak saat acara hajatan. "Mbah, Jangan lupa ya nanti sore datang ke rumah. sekitar jam tiga-an, biar sorenya bisa siap," kata tetangganya mengingatkan si nenek.

Waktu berlangsung sebagaimana biasa, si nenek mengerjakan kegiatan sehari-harinya. menyapu rumah, memasak untuk dirinya sendiri (karena dia memang tinggal sendirian di sebuah rumah yang sudah agak tua juga). dan tak lupa juga, pada hari itu ada pengajian rebo-an setiap habis ashar di langgar dekat rumahnya.

Saat Ashar pun berkumandang adzan dari seantero masjid dan langgar di kampung si nenek. segera ia berkemas menuju langgar untuk sholat dan bersiap-siap pula mengikuti pengajian rebo-an. sebagaimana biasanya pengajian rutin tersebut menghadirkan pembicara dari desa tetangga. Yang tidak biasa adalah ketika grup Rebana yang mengisi pengajian tersebut memainkan nada-nada shalawat yang terus menerus. selesai satu shalawat, segera beralih ke shalawat yang lain.

Begitu pula si Nenek yang ikut melantunkan shalawat walaupun bahasa arabnya tidak fasih. Namun, dia begitu menikmati setiap alunan shalawat yang diperdengarkan. "Ia sedang DZAWQ," kata sang kyai melihat tingkah si nenek, pada salah seorang jama'ah. "Shalawat terus, lanjutkan, lanjutkan shalawatnya" perintah sang kyai pada para penabuh rebana.

Rebana pun terus ditabuh, dan shalawat terus dilantunkan mengiringi si nenek yang "Mabuk" Shalawat. Hingga pukul 5-an, rebana itu baru berhenti karena penabuhnya sudah kecapaian. Si nenek, saking senengnya mengikuti pengajian shalawatnya, menjadi lupa kalau sekarang dia punya tugas memasak di rumah tetangganya yang sedang punya hajat.

Segera ia bergegas menuju rumah tetangganya dengan maksud menunaikan janjinya, menjadi juru masak. sesampainya di rumah yang dituju, si nenek langsung menemui tetangganya dan mengucap beribu maaf kerena telat datang. Tetapi anehnya tetangga malah senyum-senyum pada si nenek.
"maaf, saya tadi lupa," kata si nenek minta maaf.
"Lho, Mbah. masaknya sudah selesai kok"
"sudah selesai? siapa yang masak?"
"Tadi kan sudah ada seorang wanita yang datang ke sini, katanya sebagai ganti Sampeyan yang tidak bisa datang" Jelas si tetangga.
"Aku tidak mengutus siapa-siapa, Kok. Siapa wanita itu?" Tanya si nenek kebingungan.
"Kata wanita itu, dia bernama Fatimah Binti Muhammad Rasulullah. Dia berkata kepadaku, 'nenek sudah memuliakan Rasulullah, Ayahandaku, maka sebagai gantinya, aku memasak untuknya dan memuliakannya' begitu katanya padaku," Jelas si Tetangga panjang lebar.

Si Nenek terkejut bukan main. ia terus menggumam sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya.

"Allahumma shalli ala Muhammad, Allahumma Shalli Ala Muhammad, Allahumma Shalli Ala Muhammad....................................................................................................................
....................................................................................................................................."

KETIDAKWARASAN

Ketidakwarasan padaku, membuat bayangmu slalu ada
menentramkan malamku mendamaikan tidurku

Ketidakwarasan padaku, membuat hidupku lebih tenang
aku takkan senang bahwa kau tak lagi di sini

aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar
aku takkan tenang saat sehatku datang...

Ketidakwarasan padaku, selimut tebal hati raguku
berkah atau kutukan namamu yang kusebut

aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar
aku takkan tenang saat sehatku datang...

PAIJO DAN SANDAL JEPIT

Paijo bukan pemuda yang pandai mengaji. Ia hanya bisa mengeja Alif, Ba, Ta, itupun masih dibantu oleh Adiknya yang lebih pandai daripada Paijo.

Suatu ketika Pak Haji Sobri memberikan ceramah tentang bersedekah di Langgar tempat ia biasa mengaji. "Bapak-Bapak, Ibu-ibu jamaah sekalian, sedekah itu tidak hanya dengan harta kita, tidak hanya dengan memberi uang pada pengemis di jalan-jalan. tapi sedekah bisa dilakukan dimana saja kita berada. tersenyum dengan tulus, itu sedekah, mencari rizki untuk keluarga kita itu juga sedekah. bahkan menata sandal di depan masjid juga termasuk sedekah,"

Setelah mendengar ceramah Haji Sobri, Paijo segera menuju depan Langgar dan menata sandal-sandal yang ada di sana. begitu selesai, ia segera masuk kembali ke dalam Langgar. Selesai pengajian, para jama'ah dikegetkan oelh sandal-sadal mereka yang sudah tertata rapi. mereka mengira berkah petuah Kiai Sobri lah yang membuat sandal mereka bisa tertata rapi. hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bebebrapa bulan berselang, Paijo tetap setia menata sandal para jama'ah di Langgar tersebut tanpa ada orang yang tahu.

suatu ketika, selesai jama'ah shalat isya', ia pun pulang seperti biasa. para jama'ah pun sudah pulang semua, tinggal Paijo Sendirian. begitu ia mau melangkah Keluar Langgar, ia menemukan sebuah bingkisan kotak lumayan besar. pelan pelan ia membuka bingkisan tersebut dan dia menemukan secarik kertas dan sesuatu yang dibungkus kertas koran.

"untuk orang yang selalu istiqomah menata sandal-sandal jama'ah"

bungkusan itu ternyata berisi SANDAL. Paijo yang senang bukan main. Di kertas koran pembungkus sandal tersebut, Paijo membaca sebuah lowongan pekerjaan dikota.

Paijo pergi pun ke KOta untuk merantau, mencari pekerjaan seperti yang ada di koran tersebut untuk membantu bapaknya yang sudah udzur. dengan kepergian Paijo, sandal para jama'ah menjadi berantakan lagi. para Jama'ah pun bingung mengapa sandal mereka tidak ada yang menata lagi seperti biasa. mereka kemudian mengadukan hal ini pada Kiai Sobri, "Pak Kiai, mengapa sandal-sandal kami menjadi berantakan lagi, padahal kan biasanya sandal-sandal kami ada yang merapikannya. apa karomah Kiai sudah habis"

dengan tenang Kiai Sobri menjawab," Lha kalian Sendiri tidak mensyukuri nikmat. mestinya kalian juga ikut menjaga sandal kalian sendiri, jangan mengaharapkan sandal kalian tertata rapi. Kalian sendiri yang harus menatanya"

mendengar kata-kata Kiai Sobri, para jama'ah menjadi tersadar kalau tindakan mereka salah. merekalah yang harus menata sandal mereka sendiri. sejak saat itu pun tidak ada lagi sandal yang tercecer, semua orang yang masuk ke Langgar menata sandal mereka serapi mungkin.

beberapa tahun berlalu, Paijo kembali ke kampungnya bersama calon istrinya. ia mengunjungi keluarganya yang sudah lama ia tinggalkan. tiap bulan memang ia selalu mengirimi mereka Uang. sekarang Paijo sudah menjadi orang sukses dikota. Orang-orang kampung tak menyangka Paijo akan menjadi konglomerat, padahal dulu ia hanya pemuda yang bodoh. tapi, paijo membuktikan bahwa dengan kerja keras dan niat hati yang ikhlas, semua cita-citanya bisa tercapai.

waktu shalat pun berkumandang, Paijo mengajak calon istrinya menuju ke langgar untuk shalat berjamaah.

Ia kaget bukan main melihat sandal-sandal di Langgar selalu rapi. ia berdoa dalam hati, "Gusti Allah, lipat-gandakan pahala orang-orang yang menata sandal-sandalnya lebih dari yang hamba dapatkan ini.... AMIN"

calon istrinya bertanya ada apa? tapi Paijo hanya menjawab, "Sudahlah ga usah dipikirkan, Ayo sholat!"

Ia pun dan calon istrinya menuju ke dalam langgar dengan terus bertahmid,,,,,
"Alhamdulillah....Alhamdulillah....Alhamdulillah....Alhamdulillah......
Alhamdulillah....Alhamdulillah....Alhamdulillah....Alhamdulillah...."...
................................................................................."

ABU NAWAS MENGIBULI ALLAH

Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla.
Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl
itaubatan waghfir dzunubi.
fa innaka ghofirun dzambil`adzimi.

Artinya.Ya Tuhanku, rasanya
hamba tak pantas masuk surgamu.
Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat.
Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunuilah dosa kami.
Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar ?.

MUNAJAT SUNYI

Ya Allah, aku ini insan yang kalah
Balutlah hatiku yang terbelah
Juga terpisah-pisah

Ya Allah, hanya pada-Mu aku meminta
Dan hanya pada-Mu ku memohon
Mohon dengan sangat

Ya Tuhanku, apa lagi yang salah dariku
Bersujud ku mohon kepada-Mu
Ampuni dosaku

Ya Tuhanku hanya engkau yang dapat mengerti
Kesepian yang mencabik diri
Ku tak tahan lagi

Ya Allah jangan biarkan aku terpisah
Terjerat dalam pusaran rindu
Rahasia kasih-Mu

Ya Allah, Dia satu antara seribu
Ku mohon kepada-Mu
Mohon dengan sangat…

CINTA SAJA, JIBRIL....

"cinta saja!!," kata mereka membentur-benturkan kalimat-kalimatku yang belum juga tuntas.
"tak perlu tambah kata-kata lain. nggak penting," tambah yang lain lagi....


cerita ini sebenarnya bukan hanya tentang cinta, tapi aku ingin menggarapnya menjadi TUHAN YANG SENANG BERCINTA....

"kalau kau tetap ngotot, aku nggak mau ikut nanggung akibatnya," kata pak haji sambi ngeloyor pergi.

baris terakhir sudah hampir rampung. begitu kisah ini selesai, aku akan mengajukannya ke meja Sidang Paripurna Seniman langit. mungkin mereka akan mendengarkanku. walaupun hanya sebentar saja.
aku yakin pada kebenaran yang terlihat di setiap bekas langkah-langkahku. maka aku jadi yakin, dan tak lagi memperdulikan kata-kata mereka...

"Kamu nggak ngerti juga, ya. TUHAN itu nggak suka privasinya di publikasikan," Jibril membentakku.

"Biarin... Tuhan aja nggak nglarang," kataku membela diri....

Jibril mukanya merah padam. aku hanya tesenyum sambil bersiul meninggalkannya....

"Aku MENAAAAAAAAAANG!!!" Teriakku sekencang-kencangnya...

ORANG GILA PADA KETAWA

suatu kali ada seseorang yang merasa sabar, merasa prihatin, merasa kuat menghadapi tantangan karena selama 3 hari tidak makan. Namun setelah tiga hari hampir merasa tidak kuat lagi, ia baru menghadap salah satu kiai:

“Assalamu’alaikum kyai, mau minta do’a restu” pintanya.

“Ada apa?”, tanya sang kiai.

“Saat ini saya sudah kuat selama tiga hari ini belum makan apa-apa”, ungkapnya.

“ Alhamdulillah, saya ini malah belum makan selama seminggu”, balas sang kiai.


"Wwakakakakkakkkk......", orang-orang gila pada ketawa.

FILM "3 IDIOTS" DAN KRITIK SOSIAL

Dalam sebuah kuliah, Rancho (tokoh utama dalam film 3 idiot) berusaha menjelaskan definisi “mesin”. Dengan kata yang sederhana—dan contoh-contoh yang realistis—dia membahasakan kembali definisi “mesin”. Tapi penjelasan yang tidak sesuai dengan teks buku itu ditolak mentah-mentah oleh sang professor. Kata Rancho, “Pak, setidaknya haruslah kita memahami. Jika hanya meniru buku, apa gunanya?”. “Buku sudah memberikan definisinya. Jika kau ingin lulus, kau harus menuliskannya (seperti yang ada di buku)”, balas sang Profesor dengan sadisnya.

Hmm, sepenggal tadi hanyalah sedikit lakon dalam film “3 Idiot”. Film garapan Sutradara Karan Narvekar yang diproduksi oleh vinod chopra Film ini sarat dengan muatan “emansipatoris” yang mengajak semua orang untuk out of Book dalam memandang permasalahan kehidupan. Seperti kisah Raju Rastogi yang karena takut pada otoritas bapaknya yang menginginkan anaknya jadi insinyur, dia rela memendam bakat animal photography yang sudah dimilikinya. Atau kisah tentang Farhan Qureshi yang karena takut banyak hal—tekanan dari ibunya yang sudah tua, bapaknya yang sakit-sakitan, ditambah lagi kakaknya yang telat menikah—membuat ia semakin tertekan dan rela memakai “cincin-cincin ajaib” yang ia percaya mampu membantunya. Mereka hanya potret sebagian kecil orang yang terkungkung dalam system.

Kemudian disisi yang lain datanglah Rancho, a “out of book” person, yang mengajak mereka belajar bagaimana belajar. Belajar secara “seharusnya”. Bukan karena sesuatu yang di luar diri, tetapi yang terpenting dalam belajar adalah dorongan dari dalam.

Ya, Film memang menjadi media yang sangat menarik untuk melakukan kritik terhadap social masyarakat. Dalam konteks film ini adalah masyarakat india yang cenderung memandang orang dari keberhasilan akademis dan terlebih lagi, gelar insinyur mendapat porsi yang sangat besar dalam strata masyarakat. Dan, mungkin juga ini yang terjadi pada kita—mahasiswa UIN—yang sudah terjangkit wabah “modernism akademis”. Semuanya diukur dengan nilai. Seperti yang sering dipidatoka para pembesar, “Jika nilai anda tinggi, maka akreditasi Universitas kita akan naik, dan Nama UIN akan semakin BESAR.”

Waduh, sampai segitunya. Apapun pendapat anda mengenai Film ini, sangat layak jika bisa kita jadikan “kaca benggala” bagi diri sendiri. Selanjutnya sambil menonton Film ini, mari kita katakan, ALL IS WELL, ALL IS WELL, ALL IS WELL… maka semua akan baik-baik saja.

REFLEKSI SAAT MENYEPI

Ketakwaan menjadi harga mati seorang muslim di hadapan Tuhannya. Sebuah sikap diri yang berusaha melaksanakan seluruh perintah Tuhannya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia senantiasa terpatri dalam muslim yang juga muttaqin. Akan menjadi timpang atau berat sebelah jika kita berislam namun belum cukup bertakwa. Karenanya secara sistem paling tidak seminggu sekali dalam setiap Jum’atan para kaum muslimin diingatkan untuk selalu bertakwa baik pesan ini ditujukan kepada diri sendiri (baca: khotib) maupun kepada orang lain (baca: jamaah solat jum’at).

Tidak berlebihan kiranya jika implementasi dari sikap ketakwaan tersebut tidak hanya menyentuh ranah vertikal kepada ketuhanan semata. Karena pada titik ini ia lebih pada perbuatan hati. Sehingga realitas masyarakatlah yang paling potensial untuk mengukur sejauh mana ketakwaan kita. Salah satu sifat wajib bagi Allah, “qiyamuhu binafsihi” sangat memperkuat akan kedirian Tuhan jika sekalipun tidak diiringi dengan ketakwaan hamba-Nya karena memang sudah begitulah adanya kuasa-Nya.

Disinilah peran penting kontestasi ketakwaan kita kepada Allah, yaitu dengan realisasi yang nyata membantu kepada sesama hamba-Nya. Sikap ini perlu sekali dinyatakan jika kita tidak ingin termasuk pada golongan “an taquuluuna maa laa taf’aluuna” (baca: berkata tapi tidak mengamalkan). Sehingga seringkali sikap kesalihan ‘an sich’ hanya menjadi boomerang pada dirinya sendiri, yaitu dengan munculnya sifat riya’ dikarenakan menganggap ketakwaannya lebih banyak daripada orang lainnya.

Pada masa Nabi Muhammad Saw, dimana para sahabat saling berlomba-lomba meningkatkan sikap keagamaannya, ketakwaannya, dan kesalehannya kepada Keharibaan Allah Swt. Mereka saling bersaing satu sama lain berlomba-lomba menjadi seorang yang bertaqwa dihadapan Allah Swt. Hal inilah yang sering disebut “fastabiqul khoirot”. Gambaran seperti itulah yang sama persis dilakukan oleh kita semua disini. Ya, seperti jama’ah ini. Mereka yang setiap hari selalu melakukan peningkatan keberagamaannya kepada Keharibaan Allah Swt.

Tetapi ketika dirinya merasa menjadi ahli taqwa dan bertemu dengan Nabi mesti masih lebih rendah dibandingkan ketakwaan Nabi. Sehingga setiap kali mereka berangkat dari rumah ingin menghadap Nabi mesti ingin mengetahui tingkat ketakwaannya dengan ketakwaan beliau sudah sejauh mana. Tiap kali bertemu dengan Nabi selalu merasa lebih rendah dan sangat jauh sekali layaknya: “baina sama’ wa sumur bor” (baca: antara langit dan dasar sumur bor).

Menjadi kemakluman watak manusia jika ia merasa paling lebih dimana pun ia berada. Merasa paling dan sangat paling diantara yang lain. Tidak menyadari bahwa tempat ia berada hanyalah sekelumit tempat yang kecil dan ruang sempit dibandingkan dengan tempat lain di luar dirinya sana. Kedirian yang salah seperti ini tidak memahami bahwa “dunia tidak selebar daun kelor”. Sedangkan asumsi pada dirinya tidak lebih dari “katak di dalam tempurung”.

Begitulah akan hal sama yang sering kita rasakan. Seakan-akan kita “wah, inilah aku orang yang sabar”. Namun ketika menghadapi Nabi untuk mengutarakan maksudnya, keadaannya, bahkan menyebutkan dirinya sendiri sebagai orang yang penyabar, semuanya sifat tersebut tiba-tiba menjadi luluh dengan adanya Nabi. Karena seberapapun besar kesabarannya mesti selalu kalah dibandingkan dengan kesabaran beliau.

Pernah dikisahkan, suatu kali ada seseorang yang merasa sabar, merasa prihatin, merasa kuat menghadapi tantangan karena selama 3 hari tidak makan. Namun setelah tiga hari hampir merasa tidak kuat lagi, ia baru menghadap salah satu kiai:

“Assalamu’alaikum kyai, mau minta do’a restu” pintanya.

“Ada apa?”, tanya sang kiai.

“Saat ini saya sudah kuat selama tiga hari ini belum makan apa-apa”, ungkapnya.

“ Alhamdulillah, saya ini malah belum makan selama seminggu”, balas sang kiai.

Artinya, betapapun berat usaha seseorang jika sudah bertemu dengan Nabi ternyata beliau lebih susah daripada dia. Sekalipun diceritakan; “saya ini lho begini, saya ini begitu..”, namun jika sudah bertemu Nabi, pupuslah semua usaha perbandingan susah payahnya layaknya gajah masuk lautan. Itu pun masih ada yang mengklaim sebagai orang yang pandai sekali, fasih bacaannya Alqur’an, berulang kali mengkhatamkannya, dan lain sebagainya. Namun jika telah bertemu dengan Nabi dan berkata “bla-bla-bla”, hilanglah kealimannya tersebut karena katakwaannya telah diliputi oleh sifat riya’.

Kanjeng nabi itu sangat hebat. Tetapi yang menarik dari Rasulullah Saw, adalah bagaimana ketika menunjukan keunggulannaya dibanding para sahabat. Inilah yang menarik. Bagaimana rosululloh saw,menunjukkan kesabaran yang lebih dibanding kesabaran para sahabat. Kanjeng nabi itu bisa apa saja, sedangkan kita jika sedikitpun merasa lebih pintar dalam memperlihatkan kelebihan dan kepandaian kita kepada orang lain cukup dengan merasa bisa.

Tapi ketika menunjukan kepandaiannya dibandingkan orang lain, seringkali kita tidak bisa seperti beliau, justru akan menjadi persoalan. Walaupun memang benar diri kita lebih banyak melakukan puasa. Lain halnya dengan respon orang lain ketika menerima kelebihan kita, karena dapat dipastikan dia malah tidak akan menyerah untuk bersaing dengan kita. Jadi, pada dasarnya ada cara lain untuk menunjukkan sikap-sikap positif kita tanpa bermaksud menyinggung keberadaaan orang lain di sekitar.

Dalam filosofi Jawa, dikenal dengan istilah “ora kudu menang tanpo ngasorake” (baca: untuk menang tidak harus merendahkan orang lain). Inilah nilai dan sikap yang selalu dipelihara oleh Rasulullah Saw. Bukan hanya beliau, Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah. Yaitu ketika Siti Fatimah waktu itu bekerja di sebuah tempat usaha, mendapatkan gaji untuk kemudian diberikan kepada Sayyidina Ali untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Namun suatu kali di depan majikannya sendiri ketika sedang gajian, Siti Fatimah memberikan uang gajinya kepada kepada peminta yang tiba-tiba memintanya karena sangat membutuhkan. Sungguh suatu sikap besar hati dan ringan tangan yang sulit dilakukan sekalipun oleh kita. Asli mungkin sedikit sekali dari kita yang mam[pu meneladani sikap Siti Fatimah seperti itu.

Sayyidina ali selalu mensikapi apapun yang terjadi dengan bijaksana bahwa itu adalah dari allah swt. Mugi2 kulo lan panjenengan sdoyo dipun tresnani dateng allah swt,dipun paringai kekiatan anggenipun ibadah kanti ikhlas mugi2 ngantos putro putri lan dzurriyah kulo lan panjenengan sdoyo..cekap semanten akhirul kalam “ wassalamu’alaikum wr.wb !!

TERORIS DITEROR TERUS

bidik

Jangan coba-coba menjadi teroris sekarang ini, kalau anda tidak ingin di teror. Sekalipun anda masuk ke lubang tikus, bau khas teroris anda akan terendus Densus juga. Siapapun anda, jika mau selamat dari tuduhan ini, maka jangan sekali-kali berkata dengan kata-kata yang berhubungan dengan bubuk mesiu, kabel, timer, baut, pemicu, peluru, atau Bassoka, karena kata-kata sandi itu merupakan ciri khusus yang akan memudahkan kerja para intel(igen) mengenali teroris. Apalagi kalau anda memelihara jenggot, memakai jubah sekaligus sorban ala timur tengah, siap-siap saja dialamati predikat teroris. Anda tahu mengapa teroris sekarang mudah dikenali dan kemudian teroris diteror terus?

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sebagaimana anak-anak yang lain, setiap jam istirahat berdering, saya pun senang bermain bersama teman-teman. Permainan yang kami sukai waktu itu, salah satunya adalah tembak-tembakan dengan menggunakan pistol bambu dan kertas basah sebagai amunisinya. Lokasi permainan kami pilih di bekas gedung perumahan guru yang tinggal dindingnya saja. Kami terbagi manjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari empat sampai lima orang. Setelah dilakukan pengundian, kelompok yang kalah berada di luar gedung dan memposisikan diri sebagai Oposisi yang siap merebut daerah kekuasaan. Sementara yang menang berada di dalam gedung untuk mempertahankan daerahnya dari ancaman musuh.

Permainan dimulai. Dengan sigap, saya memasang amunisi ke dalam pistol dan siap menembak musuh-musuh saya yang akan merebut daerah kekuasaan saya—karena kelompok saya menang dalam pengundian sehingga mendapatkan kuasa untuk menduduki gedung. Pertempuran mulai sengit dan tembak-menembak pun semakin brutal. Musuh semakin berani mendekat area kekuasaan kami. Dalam kungkungan daerah kekuasaan yang terbatas—hanya dalam gedung—kami sadar kalau musuh menyerang kami dari segala penjuru. Dalam waktu yang relatif singkat, akhirnya daerah kekuasaan kami pun dapat mereka lumpuhkan. Kami menyerah. Dan permainan selesai.

Anda tahu mengapa kami menyerah? Karena hasilnya sama saja antara menyerah dan tetap bertahan—sama-sama kalah. Bahkan bisa lebih parah jika kami tidak menyerah, karena musuh akan semakin beringas menghabisi kami semua.

Saya mengandaikan teroris saat ini tidak ubahnya seperti kelompok saya yang menang dalam pengundian, kemudian diberi daerah kekuasan. Padahal sesungguhnya daerah kekuasaan yang terbatas itu yang membuat mereka menjadi tidak berkuasa. Terorisme hanyalah hasil pengundian yang mendiskreditkan sebagian kelompok minoritas yang “diberi kuasa” agar setiap orang diluar mereka menjadi pihak oposisi yang siap—bersama-sama—menghancurkan mereka.

Sebagian besar “teroris” adalah muslim. Dalam Islam banyak ayat-ayat yang menyebutkan tentang perang melawan “orang kafir”. Tujuan teroris adalah membunuh “orang kafir”, maka Islam identik dengan teroris. Kira-kira begitulah analisa logika induktif yang selama ini digunakan sebagai justifikasi kebenaran pendapat kalangan mayoritas “oposisi” teroris. Bahkan nalar ini juga dibenarkan oleh sebagian besar muslim. Atau paling tidak mereka menganggapnya sebagai golongan—orang yang salah pemahaman agamanya—yang wajib dibasmi. Hal ini kemudian yang menjadikan kekuatan “oposisi” teroris semakin kuat. Dan juga semakin memperkecil “daerah kekuasaan” teroris kerena mereka telah didepak dari kelompok yang lebih besar. Keterdesakan itulah, teroris semakin memberanikan dirinya untuk mempertahankan eksistensinya dengan cara apapun.
latihan perang

Namun, layaknya sebuah permainan, waktu pun akan berakhir, baik setelah ada pemenang, maupun belum. Wacana tentang teroris pun akan segera berakhir—sebagaimana isu-isu besar di Indonesia yang tenggelam begitu saja. Tinggal siapa yang bisa bertahan lebih lama dalam menjaga eksistensi masing-masing. Teroris maupun “oposisi”-nya akan selalu saling mengalahkan demi tegaknya sebuah ideologi yang mereka yakini kebenarannya. Saran saya, karena saat ini sudah kadung banyak yang menjadi “oposisi” yang menggeser kekuasaan, ada baiknya kaum teroris sedikit bersabar—mengaburkan diri dari daerah kekuasaannya—untuk mempersiapkan diri menjadi opposan baru.

Terakhir, jika anda punya ideologi yang mirip atau sama dengan “teroris” sudah selayaknya anda berhati-hati. Sudah tidak ada lagi tempat aman bagi anda untuk bersembunyi. Bahkan di WC pun akan ada gambar anda, lengkap dengan aksesoris bom waktu yang siap meledak. Jangan sampai bom itu meledakkan diri anda sendiri. Amin.
meneror teroris