Memulai Kisah Baru


“Bagian tersulit dalam sebuah perkenalan adalah memulai. Dari mana dan bagaimana memulai. Terutama ketika kau ingin mengenali siapa dirimu.”
 
Selalu saja ada hal baru yang ingin dikisahkan. Sekalipun kisah itu tidak ingin diceritakan. Tetapi paling tidak, ia ingin diketahui orang lain. Kisah adalah jiwa yang hidup diantara keluh kesah manusia. Ia menerobos labirin paru-paru, mengalir bersama darah, berdenyut mengikuti irama jantung, dan ikut berpikir di dalam otak.
Babak baru demi babak baru mulai muncul bersamaan dengan terbitnya sang penguasa hari, matanya hari, the Eye of the day. The Sun of the day, sampai orang-orang tak sabar segera menyebutnya dengan Sunday. Sebagaimana sebuah mata, ia tajam menatap kehidupan-kehidupan yang baru saja terbangun dalam sejarah tidur panjangnya.
Yang mula-mula terjaga adalah para hamba Tuhan. Mereka bersujud, memuji, mengingat-ingat Tuhan mereka lalu memanjatkan do’a-doa. Dimulai dengan menyebut nama Tuhan dan diakhiri dengan megucap syukur pada Tuhan pula. Waktu tengah malam, sepertiga awal hingga sepertiga akhir menjadi waktu mustajab berdo’a.
Memohon ampun terhadap dosa-dosa seharian kemarin, karena besok akan ada dosa baru yang siap hadir mewarnai. Berdo’a memohon ampun setelah seharian mengumpat teman-teman, mengusir pengemis yang mengetuk pintu rumah, membohongi orang-orang, sedikit mengurangi takaran timbangan untuk menambah keutungan, sedikit menyombongkan diri karena menjadi yang terbaik dari yang lain, dan sedikit-sedikit yang lain.

Tuhanku,  Kekasihku, sungguh tidak ada kepantasanku masuk dalam surgamu, tetapi kau juga tak sanggup masuk dalam dahsyatnya api nerakamu.
Maka tumbuhkanlah kesadaranku untuk bertobat kepadamu, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau maha pengampun.
Kekasihku, hambamu yang penuh maksiat ini mengetuk pintu-Mu
Bersujud bersimpuh mengakui segala dosa, bersama hati yang memanggil-manggil ampunan-Mu.
Kekasih, jika Engaku mengampuni, maka memamg hanya Engkaulah yang Maha Mengampuni.
Tetapi jika Engkau Usir aku dari keharibaan-Mu, maka kepada siapa lagi aku, kami mereka semua memohon pertolongan?

Tuhan memang sungguh Pengampun dan pemaaf atas kesalahan manusia durhaka. Ia selalu mengampuni manusia-manusia mengakuinya sebagai Tuhan. Tapi, tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya dipanjatkan oleh hati-hati mereka. Pun Tuhan yang maha Tahu apa yang ada di dalam dada mereka semua.

2 komentar:

Senja mengatakan...

ini sajaknya abu nawas bukan? satu paragraf sebelum paragraf terakhir

Pangeran Kalijaga mengatakan...

Anda Benar...