Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Capres Kita “Si Kung”

Written By Cak Nun

Kenikmatan khusus bagi saya untuk mengkhayalkan Prof.Dr.K.H.Nurkhalish Madjid, salah satu calon presiden RI, tampil berpidato di suatu acara kenegaraan di Arab Saudi atau negara-negara Arab lain. Tak sampai saya bayangkan soal karakter kepribadiannya, wibawa kenegarawanannya, atau kedalaman dan keluasan pemikirannya. Cukup kefasihannya dalam berbahasa Arab.


Tapi jangan Bu Mega atau Pak Hamzah. Tidak juga calon presiden RI yang lain: SBY, HB-X, Yusril atau siapapun. Termasuk Gus Dur. Kefasihan estetik bibir Gus Dur dalam berbahasa Arab kalah dibanding Cak Nur. Bunyi Arab dan Inggrisnya Gus Dur bunyi Jawa, sedang Inggrisnya Cak Nur cling dan clean antara British dengan American English. Karakter suara bibir lidah di ujung setiap kata yang diucapkan Cak Nur sangat kentara kefasihannya, bahkanpun ketika berbahasa Indonesia. Karakter “a”, “sh”, “sy” mencerminkan tingkat kepandaian ilmunya. Ekspresi kebahasaan Cak Nur sangat internasional. Jangan lupa, bahasa harian Cak Nur dengan anak istrinya adalah Inggris. Sementara Gus Dur is always so so so Jombang alias nJombang ndekek. Sedikit saja bersentuhan dengan ekspresi Gus Dur, langsung kentara pasti dia keponakannya ludruk. Sedang kalau Cak Nur tampil, kita curiga di turunannya Prabu Airlangga, paling tidak Patih Nambi.


Cak Nur vocalnya “kung” seperti perkutut 1-M harganya. Kalau ia menggeram, seluruh binatang rimba terbangun mendadak dari tidurnya. Waktu kecil Cak Nur bikin mimbar di atas pohon asem dan membuat corong dari seng untuk mengumandangkan adzan dan tarhim. Ketika berumur belasan tahun di Gontor Cak Nur sudah fasil berbahasa Inggris, Arab, Jerman dan Jepang. Cak Nur memenuhi persyaratan untuk berpidato menggelorakan hati rakyat sebagaimana Bung Karno. Apalagi kalau mau mematangkan diri dengan kursus teater.
***


Tak hanya ilmunya, tapi juga kemampuan berbahasa Cak Nur sangat mengagumkan. Maka saya senang betul dengan khayalan di atas.


Bukan rahasia bahwa degradasi kultur berbahasa Arab fushah (Arab baku, resmi, semacam Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar serta Enak) berlangsung dengan kadar yang berbeda-beda di negara-negara Arab, tak terkecuali Arab Saudi. Orang selalu bercanda ketika naik haji di Makah: “Wah, di sini anak-anak kecil sudah pandai bahasa Arab”. Padahal tak demikian kenyataan di Saudi. Setiap penduduk pasti bisa omong Arab, tapi ‘amiyah, Arab pasaran. Tak sedikit yang buta huruf. Guru dan Dosen bahasa Arab di sekolah-sekolah dan universitas Saudi boleh dikatakan hampir seratus persen orang Mesir atau Sudan. Orang Arab kaya raya, sehingga untuk bikin jalan menyewa orang Mesir, membangun gedung menyewa orang Korea, untuk berbisnis cari manager dan karyawan pelaksana dari Amerika dan Eropa, untuk kebersihan menyewa orang Bangladesh dan India, untuk nyetir, memasak dan menyapu menyewa orang Indonesia. Dan untuk berbahasa Arab mungkin perlu juga menyewa orang dari luar Arab


Mohon maaf ketika selama dua minggu Maret yll Kiai Kanjeng pentas di Cairo, Alexandria, Ismailia, Tanta dan Al-Fayoum, dengan presentasi dan komunikasi bahasa Arab fushah – membuat audiens dan pejabat-pejabat yang datang menjadi terharu, memberi ekstra aplaus, tapi juga membuat mereka gelisah. Bukan hanya karena Kanjeng membawakan lengkap lagu Jawa, Perancis, Arab, dan utamanya lagu-lagu legendaris Kaukabus Syarq si bintang timur Ummi Kultsum, yang sampai hari ini tak sedikitpun bisa dikejar oleh pencapaian musisi-musisi Mesir. Bukan hanya merasa dihormati oleh kefasihan mengucapkan kalimat Arab oleh para vocalis Kanjeng dan terperangah oleh gamelan yang bisa mengejar notasi-notasi Arab. Tapi juga karena presenter Kiai Kanjeng, alumnus Gontor seperti Cak Nur, berkomunikasi sangat lancar dalam bahasa Arab fushah, bahkan selama dua jam di Nail-TV, kemudian siaran tunda di teve Ismailia dan Alexandria.


Gubernur Ismailia berpidato: “Kenyataan indahnya bahasa Arab tamu kita merupakan sindiran dan kritik yang harus membuat masyarakat kita terbangun. Harus segera ada pembenahan kurikulum di sekolah-sekolah untuk menjamin generasi muda Mesir sanggup berbahasa Arab yang sebenarnya”. Itu baru Kiai Kanjeng. Saya pastikan kalau Cak Nur yang datang ke kota-kota Mesir itu, diperlukan banyak ambulan karena begitu banyaknya orang pingsan mendengar suara “kung” dan indahnya bahasa Arab Cak Nur. Anda perlu tahu orang Mesir over-sensitif terhadap bunyi. Kalau terdengar suara, apalagi musik yang menyentuh hati, mereka langsung teriak dan berjoget-joget. Pentas Kanjeng di Gumhouria kacau lighting-nya karena petugasnya sibuk teriak “Allah! Allah!...Shalla ‘alan Nabi!” dan berjoget sepanjang pertunjukan dan lupa ngurus lampu.


***


Itu baru soal bahasa Cak Nur, belum dua unsur lainnya. Dalam sidang Liga Arab Pangeran Abdullah tuding-tudingan dan saling memaki dengan Muammar Kadhafi seperti calo terminal bis. Padal 20 Mei 1998, sehari sebelum Pak Harto lengser, dalam sebuah konferensi pers Cak Nur dituding-tuding oleh Pak Amin Rais soal Komite Reformasi, tapi Cak Nur tidak membalas dan tersenyum saja. Cak Nur lapang dada, meski di masa kanak-kanaknya, kalau ada buah jatuh di pekarangannya, teman-temannya ia larang ikut mengambil dengan ancaman : “Aku gak ridlo lho!”


Bagi Cak Nur serangan kepadanya adalah jamu. Ketika Cak Nur dalam kandungan, Pak Madjid puasa terus. Sebagai anak dari keluarga NU (di desanya sejumlah kalangan menyebut Cak Nur anti-Muhammadiyah dan digunjingkan pernah kirim surat dari Amerika Serikat yang memerintahkan pembongkaran masjid Muhammadiyah), Cak Nur sudah disentuh “tirakat” sejak di kandungan. Ada tiga adiknya dan semua pintar seperti Cak Nur. Mungkin juga karena miskin – meskipun kelak H. Ilyas mewariskan sejumlah harta yang mengangkat ekonomi keluarga Pak Madjid.


Tahun 1964 saya pernah datang ke rumah Cak Nur di dusun Mojoanyar, desa Mojotengah, kec. Bareng, dan Ibu beliau, Fatonah, yang asal usulnya dari Grenggeng Kediri, menyuguhi saya jamu. Tahun 1998 di hari-hari reformasi saya dicekoki jamu lagi. Di depan Cak Nur, saya adalah anak kecil, yang perlu jamu untuk melatih kedewasaan dalam pergaulan dengan kepahitan hidup.


Di Istana Negara, setengah jam sebelum pertemuan 9 orang dengan Pak Harto untuk meminta beliau lengser, Cak Nur mengajak saya berjabatan tangan sebagai dua lelaki: bersumpah bahwa kami berdua tidak akan ikut dalam kekuasaan pasca-Suharto.


Ditawarkan kepada Pak Harto gagasan Komite Reformasi. Ide dasarnya: Pak Harto turun, MPR dan DPR bubar. Komite Reformasi memegang kuasa sementara semacam MPR-Sementara, yang segera mengangkat Pejabat Kepala Negara Sementara (waktu itu tak ada orang lain kecuali Pak Amin Rais, yang hari-hari itu oleh BBC dan CNN selalu dipanggil “Mr.President”) yang ditugasi untuk menyelenggarakan Pemilu paling lambat 6 bulan sesudah Pak Harto lengser. Komite Reformasi terdiri atas 45 orang: Gus Dur, Megawati, Amin Rais...dan para reformis lainnya. Yang orang Orba tiga orang: Suharto sendiri, Wiranto dan Akbar Tanjung. Dua yang terakhir ini sekarang tidak jelas definisinya apakah termasuk orang Orba atau reformasi. Akbar Ketua DPR, Wiranto calon presiden.


Kami bersumpah tidak ikut Komite Reformasi, untuk memberi contoh kepada masyarakat bahwa yang kami lakukan bukanlah bertujuan kekuasaan. Cak Nur konsisten meskipun Pak Harto memohon-mohonnya. Komite Reformasi gagal oleh kekuatan Pak Amin Rais (dalam konferensi pers yang saya sebut di atas) yang menganggapnya sebagai strategi licik Suharto untuk tetap berkuasa. Akhirnya vacum pada jam-jam peralihan dari Suharto itu 14 menteri mendadak mengundurkan diri.


Dalam pertemuan Pak Harto dengan 9 orang 19 Mei 1998 jam 09.00 WIB, orang pertama yang omong ke Pak Harto bahwa beliau harus mundur adalah KH Ali Yafi, kemudian saya dan ketiga Cak Nur. Gus Dur kasih “gong” ke Pak Harto: “Selama ini saya bayangkan Pak Harto itu monster, ternyata pagi ini saya temukan Pak Harto ini manusia”. Saadillah Mursyid Mensesneg waktu adalah orang gagah perkasa yang menyampaikan surat agar Pak Harto mundur, yang berjudul “Husnul Khatimah”, dikonsep Cak Nur, kami rapatkan di Hotel Reagant tgl 16 Mei malam, kami konferensi-perskan di Hotel Wisata 17 malam, disampaikan kepada Pak Harto oleh Saadillah 18 sore, beberapa jam kemudian Pak Harto menyatakan setuju turun, tapi ingin ditemani oleh orang-orang tua, yakni 9 orang itu, pagi esoknya.


Gara-gara ikut ketemu Pak Harto itu saya dibenci jutaan orang sampai hari ini, terutama di Yogya, karena dianggap pengkhianat. Delapan yang lain yang bersama saya ketemu Pak Harto, mereka bukan pengkhianat, karena mereka bukan saya. Pak Malik Fajar, yang selalu memfasilitasi rapat-rapat kami dan termasuk dalam 9 orang, beberapa tahun kemudian ditanya oleh sejumlah mahasiswa – “Kok bisa Emha itu ikut 9 orang yang ketemu Pak Harto?”. Pak Malik menjawab dengan penuh kearifan dalam bahasa Jawa Timur: “Embuh arek sitok iku melok ae...”. Yang artinya: “Nggak tahu ngapain anak kecil satu itu kok ikuuut saja”. Begitu lemahnya negara ini sehingga anak kecil bisa nyelonong ke istana dalam situasi di mana – kalau situasi memaksa: di Jakarta 18 pom bensin akan meledak, 16 titik jalan tol akan ambrol, dan gedung Graha Purna Yudha akan roboh memutus Jl Gatot Subroto, sehingga Jakarta dan Indonesia tergenggam habis oleh peledaknya.
***


Hari esoknya Cak Nur kasih jamu lagi. 20 Mei malam saya minta Cak Nur merumuskan apa yang terjadi besok. Cak Nur kemudian memberi istilah: “Kekuasaan Habibie harus kita beri isian cek/ Dia nggak boleh ngisi sendiri seenaknya”


Pukul 23.00 dengan bantuan beberapa teman saya undang wartawan, dari koran lokal sampai CNN. Segera mereka datang ke Jl. Indramayu 14 di mana kami akan mengadakan konperensi pers: Utomo Dananjaya akan membuka acara, saya ditugasi menjelaskan secara lisan tentang lengsernya Pak Harto besok pagi, kemudian Cak Nur akan membacakan statemen yang saya ditugasi mengetiknya dan isinya sbb:


“Kami adalah pribadi-pribadi warganegara yang merasa ikut terpanggil memenuhi kewajiban bersama menyangga keutuhan bangsa dan negara, dengan ini menyatakan :


(1). Sesudah BJ Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan UUD 1945, menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Soeharto atas sikap beliau yang arif bijaksana dan penuh kebesaran jiwa memenuhi keinginan masyarakat luas untuk berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia dalam rangka Reformasi. (2). Kami bersepakat bahwa Presiden BJ Habibie memimpin pemerintahan transisi sampai dengan Sidang Umum MPR baru dalam waktu 6 bulan.(3). Presiden harus segera menyusun Kabinet Reformasi yang sepenuhnya mencerminkan pluralitas masyarakat Indonesia, dan yang terdiri dari orang-orang yang bersih dari kolusi, korupsi, kroniisme dan nepotisme. (4). Pemerintah harus secepat mungkin melahirkan paket UU Politik, UU Anti Monopoli, UU Anti Korupsi, serta UU Pers, sesuai dengan ide dan aspirasi Reformasi. (5). Pemerintah harus menyelenggarakan Pemilu dan Sidang Umum MPR dalam 6 (enam) bulan berdasarkan paket Pemilu yang baru. (6). Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh dan secara efektif melaksanakan pemberantasan korupsi, kolusi, kroniisme dan nepotisme.


Jakarta, 21 Mei 1998 pkl 00.30 WIB. Tertanda: Nurkhalish Madjid, Emha Ainun Nadjib, Malik Fajar, Utomo Dananjaya, S.Drajat.


Menjelang masuk ke ruang konperensi pers, Pak Amin Rais datang. Kami berhalo-halo, Cak Nur mengobrol beberapa menit. Kami bertiga menunggu di dalam, kemudian Cak Nur masuk dan langsung membacakan pernyataan tanpa acara dibuka oleh Utomo dan penjelasan lisan dari saya. Cak Nur keliru sedikit dalam membaca, sehingga re-take. Semua berdebar-debar. Di akhir pembacaan, Cak Nur mengucapkan: Jakarta, 21 Mei 1998 pkl 00.30 WIB. Tertanda: Nurkhalish Madjid, Amin Rais.***

Emha Ainun Nadjib: ''Orang Islam Dibakar Supaya Mengamuk''

Tak mudah, memang, memotret sosok lelaki ini hanya dari satu sisi. Sebab, suatu saat ia tampil sebagai seniman, di saat lain ia adalah intelektual, pengamat politik dan sosial. Tapi, banyak juga yang menganggap dia kiai karena fasih bicara soal agama. Ya, bak kata pepatah, melihat matahari hanya dari satu sisi, maka melihat Emha harus dari segenap jurusan.

Emha Ainun Nadjib memang memiliki banyak faset. Ia juga bak libero: bisa bergaul dengan siapa saja dari kalangan mana saja. Ia dengan mudah membaur dengan portir di bandara, "mbok-mbok" jamu, dan sopir taksi. Tapi, ia bisa juga diterima kalangan atas dan pejabat pemerintahan, pengusaha, dan juga kalangan ABRI. Tak heran bila acara diskusi atau ceramah yang dihadirinya sering dipadati pengunjung. Maklum, ia memang orator ulung. Gaya bicaranya khas, dengan humor segar. Tak segan pula lelaki 44 tahun ini bicara keras soal situasi politik. Tapi, mengapa ia tidak mau disebut ustad atau ulama? Benarkah ia bermusuhan dengan Gus Dur? Dan, kenapa sekarang banyak yang menganggapnya dukun? ;

Jakarta masih dilingkupi kabut tipis, sisa hujan tadi malam. Jarum jam menunjukkan pukul 05.30. Suasana Bandara Soekarno- Hatta pagi itu tak seberapa ramai. Di antara calon penumpang yang hendak pergi ke luar kota atau ke luar negeri, sesosok lelaki berpakaian santai tampak menyelip. Lelaki berkemeja hijau dan celana hitam itu tengah berbincang-bincang dengan beberapa lelaki lainnya. Sejenak kemudian, ia berpamitan karena pesawat yang hendak membawanya ke Yogyakarta akan segera berangkat.

Di pagi yang masih sepi itu, dia sudah harus pasang wajah ramah. Maklum, tidak sedikit orang yang menyapa dan mengajaknya berbincang. Padahal, ia bukan artis, atau selebritis. "Acara 'Cermin'-nya bagus, Cak. Saya senang sekali," pegawai di "counter" Garuda menyapa ramah.

Lelaki berambut gondrong tadi Emha Ainun Nadjib, seniman dan budayawan yang belakangan ini sering "wira-wiri "di layar "Indosiar" lewat "filler" "Cermin". Pagi di akhir Januari itu, seniman yang biasa disapa Cak Nun ini harus terbang ke Yogyakarta untuk mengikuti suatu acara pagi. Guratan keletihan tampak masih tersisa di wajahnya. Semalaman tadi ia belum sempat tidur. "Sehabis ceramah di Yayasan Sehati, saya keasyikan diskusi sama teman-teman," katanya. Untuk itulah, 50 menit perjalanan menuju Yogyakarta dipakainya untuk istirahat, memejamkan mata barang sebentar. "Bagi saya, tidur dalam pesawat itu sudah jadi kemewahan," kata lelaki kelahiran Jombang, 44 tahun lalu itu. Toh, tak selamanya Cak Nun bisa menikmati kemewahan itu. Meski sudah duduk "anteng", tak sedikit penumpang bahkan pramugari atau pramugara yang sengaja mendatanginya sekadar mengajaknya bersalaman dan mengajaknya bertegur sapa. "Saya memang sudah lama mengagumi Cak Nun," kata Sandy, Pramugara Garuda.

Penat. Boleh jadi itu yang dirasakan Cak Nun hari-hari ini. Cak Nun mengaku, di bulan Ramadan ini, ia lebih banyak tinggal di Jakarta. Maklum, undangan ceramah yang memang bertumpuk sebagian besar di Jakarta. Ketua Bappenas, Ginandjar Kartasasmita, dan pengusaha Arifin Panigoro, dan Yanti Bambang Permadi putri mantan Wapres Sudharmono yang bersuamikan Bos McDonald Indonesia, Bambang Permadi termasuk kalangan yang mengundang Cak Nun.

Selain itu, ia juga sibuk mempersiapkan syuting "Cermin" di "Indosiar". Belum lagi kewajibannya menulis kolom untuk beberapa media massa. Undangan khusus macam peluncuran buku "Udin, Darah Wartawan" dan bedah buku "Tajus Sobirin, Kebengalan dan Kesolehan "harus dihadirinya pula. "Saya memang membantu pembuatan buku ini. Karena membuka dialektika demokrasi," kata Emha soal keterlibatannya dalam pembuatan biografi Tajus Sobirin yang Ketua DPD Golkar Jakarta itu.

Kendati sering berceramah agama di berbagai tempat, Cak Nun tidak mau dijuluki ulama atau ustad. Apalagi bila kemudian disejajarkan dengan K.H. Zainuddin M.Z. yang justru dijulukinya sebagai artis. "Kalau dia itu profesional; mubalig yang profesional. Sifatnya industrial. Saya tidak seperti itu, saya enggak profesional," katanya. Untuk dirinya, ia lebih suka disebut sebagai peran pengganti, yang sesekali mengerjakan pekerjaan ustad atau ulama. "Sesekali jadi penasihat spiritual atau bahkan jadi dukun," katanya.

Kepada FORUM yang menguntitnya ke Yogyakarta, Cak Nun sempat mengutarakan pendapatnya tentang perkembangan politik yang belakangan ini memanas.

Ada kerusuhan belakangan ini yang kemudian berbuntut kepada isu "Naga Hijau", bagaimana Anda melihat fenomena itu?

Kalau Gus Dur-Amien Rais, ICMI-NU, itu sebenarnya kan pertengkaran klasik dengan lapangan yang baru. Setiap ada persoalan dipakai untuk tendang-tendangan di antara mereka. Seperti juga dulu terjadi antara NU dengan Masyumi, atau KAHMI-HMI. Setiap ada masalah, dipakai untuk saling menuding di antara mereka.

Saya kira, tidak usah dilacak siapa yang benar atau siapa yang salah. Saya hanya menilai, semua itu tidak menguntungkan bangsa Indonesia. Tidak mendewasakan bangsa Indonesia. Di tengah situasi yang penuh disinformasi ini, penuh ketidakjelasan masalah, seharusnya kita berhemat pernyataan, berhemat tuduhan, berhemat fitnah. Jangan gampang menyangka- nyangka. Orang seperti Gus Dur, Adi Sasono, Habibie, atau yang lain sesungguhnya dibutuhkan perannya dan kemampuannya untuk menjadi cermin yang jernih dan bening untuk seluruh bangsa Indonesia. Mereka seharusnya menjadi orang tua yang arif yang justru meredakan persoalan, bukan menambah persoalan.

Yang terjadi dengan "Naga Hijau" atau "Naga Merah" kan hanya menambah ketidakjelasan. Itu sama dengan pejabat militer yang mengatakan, "Saya sudah tahu aktor intelektualnya, tapi tidak pernah jelas sampai sekarang." Itu menambah beban masyarakat. Masyarakat ini terlalu banyak beban. Masyarakat sudah banyak beban masih ditambahi dengan beban informasi yang tidak informatif. Masyarakat dituntut untuk bisa memilah-milah informasi.

Mungkinkah meminta masyarakat selektif memilah informasi?

Setiap hari saya bertemu banyak orang. Mereka meminta konfirmasi tentang kejadian-kejadian nasional ini. Yang bisa saya lakukan adalah menyarankan agar mereka jangan ikut sesuatu yang mereka tidak paham. Mereka harus memiliki daya selektif yang lebih cerdas. Mereka harus bisa memilah agar
tidak gampang terseret, tidak gampang terhasut. Kalau Anda punya kewibawaan di dalam masyarakat, punya karisma, masyarakat mau mendengar saran Anda. Saya mencoba untuk bisa seperti itu.

Sejak kapan itu Anda lakukan?


Dari dulu kan saya sudah mulai mendamaikan mereka. Mendamaikan dalam arti menghindarkan mereka dari konflik mubazir yang akan jadi bumerang. Kedua, menumbuhkan sikap kritis yang proporsional. Saya lakukan lebih banyak lewat diskusi, seminar, Pengajian Padang Bulan, dan lainnya.

Ada pengamat yang mengatakan bahwa perkembangan politik belakangan ini adalah pemanasan menjelang pemilu...

Menurut saya, ini bukan pemanasan menjelang pemilu. Pak Harto itu kan dilingkungi beberapa kelompok. Ada yang jaraknya dekat, ada yang jaraknya jauh. Masing-masing punya jaringan ke bawah. Salah satu kelompok inilah yang sejak lama mencoba bersikap kritis terhadap kekuasaan, terhadap Pak Harto. Tapi, mereka tidak pernah berani eksplisit. Maksud mereka sebenarnya baik:
prihatin terhadap semua keadaan yang terjadi di negara ini.

Mestinya, awal tahun ini, mereka lebih transparan dan menunjukkan aktualisasi strategi mereka untuk menempuh negosiasi kepemimpinan nasional yang lebih rasional; yang lebih jantan. Tapi, mungkin karena dianggap tidak berani atau kalah wibawa sama Pak Harto, satu-satunya cara yang gampang, dan ini sudah sering terjadi di Indonesia, adalah menjegal bangsa ini dari belakang dengan meminjam tangan orang Islam. Jadi, orang Islam dibakar-bakar untuk mengamuk. Kerusuhan itu nanti akan muncul dalam frekuensi yang lebih tinggi karena memang potensi untuk rusuh itu besar, misalnya, soal
kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Sampai pada suatu saat akan terjadi situasi darurat nasional, di mana mereka akan menghadap Pak Harto dan mengatakan, "Pak, ini tidak bisa dihadapi. Jadi, mau tidak mau, kita harus tawar menawar untuk menyelamatkan bangsa ini."

Tapi, mungkin juga ada faktor-faktor lain yang nonstrategis. Ada kejadian yang di luar rekayasa. Tapi, menurut saya, "mainstream" teorinya, ya, seperti itu.

Siapa kelompok itu?

Tidak sukar sebenarnya mengetahui siapa kelompok ini. Tapi, untuk konsumsi pers, tidak akan saya sebutkan. Kalau untuk BAP (Berita Acara Pemeriksaan) polisi, saya akan sebut siapa kelompok itu.

Anda sering mengkritik Gus Dur. Apakah memang Anda berseberangan dengan dia?

Ya, mungkin karena harapan saya terhadap dia terlalu besar. Padahal, sebenarnya saya dan dia banyak punya kesamaan. Cuma sejumlah pilihan dan "policy "yang membedakan kami. Saya sangat dekat dengan Gus Dur. Sangat intim. Kami sendiri sering berdiskusi. Kami juga sering mengkonfirmasi
ucapan masing- masing. Kalau saya terlalu mengecam, Gus Dur akan bertanya. Nanti, akan saya jelaskan, "Gini, lo, Gus yang saya maksud..." Juga sebaliknya.

Jadi, sebenarnya tingkat kemesraan dan cinta kasih kami masih lebih tinggi dari perbedaan pendapat. Katanya, berbeda pendapat boleh, kok, dimasalahkan. Saya mengkritik dimarahi. Kemarin ada yang memarahi saya soal "Kado Muhammad". Katanya, kenapa judulnya begitu, mestinya kan Kado Nabi Muhammad SAW. Saya gampang menjawabnya. Syahadat itu bunyinya bagaimana? Kan tidak
ada nabinya.

Emha lahir di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Jombang, 25 Mei 1953, sebagai anak keempat dari 15 bersaudara dari keluarga pendidik. Ayahnya, Muhammad Latief, adalah lulusan Pondok Pesantren Tebuireng. Anak keempatnya ini diberi nama Muhammad Ainun Nadjib. Belakangan, nama Muhammad ini disingkat menjadi MH, atau kalau dilafalkan menjadi Emha. Nama inilah yang kemudian melekat dan menjadi panggilan akrabnya.

Sejak kecil, Emha sudah menunjukkan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial dan keadilan. Boleh jadi, ini lantaran ibunya sering membawanya berkeliling kampung mengurusi UB (Usaha Bersama) yang dikoordinasi sang ibu. Maka, bagi Emha, sang Ibu adalah idolanya. Ia yakin bahwa semua yang ia lakukan kini tak lepas dari doa ibunya.

Sebagai anak yang peka terhadap masalah keadilan, Emha pernah diusir saat ia masih bersekolah di SD di Jombang. Pasalnya, ia melompati meja dan menendang seorang guru yang menurut dia berlaku tidak adil. Lantas, ayahnya mengirim Emha ke Pondok Pesantren Modern Gontor. Di sini pun, Emha tidak bisa bertahan lama. Ia kembali dikeluarkan karena mengadakan demonstrasi. Emha lantas pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolahnya di SMA. Saat inilah, ia mulai bersentuhan dengan dunia kesenian. Ia mulai bergabung di Persada Studi klub yang diasuh Umbu Landu Paranggi, si Raja Penyair dari Malioboro.

Setamat SMA, Emha diterima di Fakultas Ekonomi UGM. Tapi, perkuliahan cuma dijalaninya selama 1 semester. Saat ujian semesteran, Emha tidak bisa menjawab soal-soal yang diberikan. Ketika itulah ia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Emha sempat kembali ke Jombang selama dua tahun untuk belajar tarekat dari kakeknya yang memang dikenal sebagai ulama tarekat. Tapi, ia kembali lagi ke Yogyakarta dan memutuskan menjadi penyair.

Sebelumnya, ia memang sudah banyak menulis di berbagai media massa. Ia mengaku, kemampuanya menulis ini diperolehnya secara otodidak dan sempat terasah ketika ia menjadi tukang ketik, plus editor, di majalah milik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Perlahan Emha mulai diterima di kalangan seniman Yogyakarta. Maklum, ia tidak sungkan membagi honor tulisan atau ceramahnya dengan teman-teman seniman lainnya. Salah satu teman akrabnya kala itu adalah penyanyi Ebiet G. Ade.

Pertengahan tahun 1980-an, Emha meninggalkan "Kota Gudek" untuk mengembara ke Belanda, Belgia, dan Jerman. Ia meninggalkan istrinya yang orang Lampung, Neneng Suryaningsih. Padahal, perkawinan mereka telah membuahkan seorang anak laki- laki, Sabrang Mowo Damar Panuluh. Sekembalinya dari berkelana di Eropa, Emha dan Neneng sepakat untuk berpisah. Sang anak ikut dengan ibunya ke Lampung. Belakangan, putra satu-satunya itu kini sudah berusia 17 tahun bergabung dengan Emha di Yogyakarta.

Sepulang dari pengembaraannya, kreativitas Emha semakin menyeruak. Tulisannya kian sering muncul di berbagai media massa. Ia juga ikut membidani kelahiran Teater Shalahuddin yang ketika itu kerap manggung di Kampus UGM, Bulaksumur. Lewat teater ini, Emha mementaskan "Lautan Jilbab". Kemampuannya berteater sempat ditempa ketika mengikuti lokakarya teater di Filipina. Sementara, kepiawaiannya menulis diperdalam saat mengikuti "International Writing Program "di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Emha juga menjadi peserta dalam Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda, dan Festival Horizonte di Berlin, Jerman.

Dengan tingkat produktivitas yang tinggi itulah lahir dari tangannya berbagai buku, seperti "Slilit Sang Kiai", "Sajak- sajak Jalan", "99 untuk Tuhan", dan "Sastra yang Membebaskan".

Ketika ia kemudian memutuskan untuk masuk Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) tahun 1990, banyak yang mencemoohkannya. "Kenapa kamu masuk ICMI, itu kan rekayasa." Begitu komentar orang-orang ketika itu. Emha pun jalan terus karena ia tidak mau bersikap apriori. Toh, Cak Nun akhirnya keluar juga dari ICMI gara-gara lembaga itu dinilainya tidak mau memikirkan kasus Kedungombo.

Ketika itulah, ia mendirikan kelompok Komunitas Pak Kanjeng yang diilhami oleh tokoh yang tergusur di Kedungombo bernama Pak Jenggot. Dalam kelompok inilah bergabung Butet Kartaradjasa dan Djaduk Ferianto, kakak beradik putra seniman Yogyakarta, Bagong Kussudiardjo.

Awalnya, pergelaran "Pak Kanjeng" itu, yang bercerita soal nasib sial orang gusuran, lancar-lancar saja. Mungkin karena Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono, ketika itu menjamin tidak ada lagi pelarangan teater. Namun, awal Februari 1994, pementasan "Pak Kanjeng" terjegal di Surabaya. Padahal, saat itu, dua ribu calon penonton sudah membeli tiket. Emha diminta Kapolda Jawa Timur ketika itu, Mayjen Emon Rivai, untuk menghaluskan naskah bila ingin pementasan itu diberi izin.

Tapi, lelaki yang dijuluki "Kiai Mbeling" itu memilih tidak mementaskan "Pak Kanjeng" bila harus merevisi naskah. Sikap yang sama diambilnya juga ketika ada larangan untuk tampil di Yogyakarta, awal September 1994. Dalam kasus ini, ia menolak mencabut dua puisinya yang jadi urat nadi pementasan itu, yakni "Puisi Seadanya Mengenai Kepala" dan "Pantun Pantunan Indonesia Raya". "Mereka itu (aparat pemerintahan atau aparat keamanan) sebenarnya kan bukan melarang saya, tapi mereka takut kehilangan jabatan," katanya.

Meski dilarang di sana-sini, "Pak Kanjeng" tidak berhenti. Ia kemudian muncul dalam wajah lain yakni sebentuk kaset berjudul "Kado Muhammad", yang sudah terjual lebih dari 40 ribu kopi.

Sosoknya kini tampak semakin akrab di mata publik setelah ia muncul membawakan "filler" "Cermin" di "Indosiar" sejak awal tahun ini.

Bisa cerita soal "Cermin"?
Awalnya adalah kegelisahan akan tayangan yang kualitatif. Televisi itu kan industri, maka yang ditawarkan kepada orang adalah hiburan ringan dan impian-impian. Sedangkan acara yang agak kontemplatif, yang sifatnya menomorsatukan moral, tidak dapat sponsor. Lantas muncul gagasan, masak enggak bisa menyajikan barang semenit dua menit hal-hal yang sifatnya kontemplatif itu. Kebetulan, Pak Anky Handoko meminta saya membuat acara yang mirip gagasan saya itu.

Bagi saya, "Indosiar" itu luar biasa. Sebab, secara ekonomis, acara ini kan belum bisa menjanjikan apa-apa. Dan secara politik, ini bisa berbahaya. Karena itu, saya memuji "Indosiar" karena mau mengambil risiko. Meskipun saya juga harus toleransi, sehingga 75 persen bicara soal hal-hal yang universal, yang 25 persen baru bicara yang sedikit frontal: soal kekuasaan, soal nafsu untuk menguasai, atau tentang kesenjangan sosial. Alhamdulillah, masyarakat dari berbagai kalangan bisa menerima tayangan ini.

Salah satu niatan dari tayangan ini adalah untuk menciptakan tokoh Paman Bijak. Apakah Anda merasa bisa?
Kita tidak boleh merasa begitu. Tapi, kita juga butuh obyektivitas. Yang tampil di situ itu apa? Gambar orangnya? Isi yang diomongkannya? Atau figurnya? Misalnya tokohnya, tokoh itu kan harus menyatu dengan kalimat yang diungkapkan. Itu pun harus dengan pola ekspresi, dengan penggambaran visual
yang pas. Saya enggak tahu bagaimana orang menilai. Apakah itu membutuhkan ikatan batin masyarakat dengan saya langsung, atau cukup dengan kalimat saya.

Saya jadi ingat, "Kompas" dan "Republika" menulis bahwa saya mengutip puisi Khalil Gibran. Itu karena mereka enggak "ngerti"! Semua yang saya ucapkan itu kalimat saya. Kapan coba saya membawakan kalimat orang lain? Saya menulis buku saja enggak "ngutip" siapa-siapa...

Ibarat pepatah, semakin tinggi pohon semakin keras terpaan angin, itu pula yang dialami Cak Nun. Semakin ia berkibar, semakin banyak isu yang mengguncangnya. Ia pernah mendapat kecaman ketika tiba-tiba memiliki sedan BMW. Menghadapi hal ini, Cak Nun malah mempertahankan mobil mewah yang sebenarnya jarang sekali digunakan. "Lo, itu kan hak saya," katanya. Menurut Emha, komentar-komentar miring soal BMW itu dilontarkan oleh orang-orang yang berpikiran kerdil. "Kok, mereka tidak marah melihat orang lain punya uang ratusan miliar. Sementara teman sendiri sekadar menikmati minuman manis sedikit saja tidak boleh," katanya kesal. Mereka, kata Emha, tidak pernah mau tahu bahwa sebagian besar uangnya disalurkan untuk fakir miskin, untuk anak yatim. Sekarang saja di rumahnya di Patangpuluhan, Yogyakarta, ada 16 anak yatim yang dipeliharanya.

Di saat lain, seorang wanita pernah mengaku punya anak dari Emha. Menghadapi hal ini, Emha cuma mengurut dada. Emha mengaku kenal wanita itu karena pernah menampungnya sekitar satu setengah tahun, saat wanita itu hamil dan kemudian melahirkan. "Dia mengakunya diperkosa," kata Emha.

Anda juga sekarang dicap sombong, arogan...
Saya memang sombong. Harus itu! Sombong kepada dunia itu wajib hukumnya. Yang tidak boleh sombong itu kepada Tuhan. Tapi, kepada dunia, kepada popularitas, kepada semua yang ada di dunia, harus sombong. Kepada uang, harta-benda, harus sombong. Kalau tidak, Anda hanya jadi budak dunia.

Benarkah Anda juga jadi dukun?
Begini, lo. Setelah Pengajian Padang Bulan, biasanya ada saja orang atau kelompok orang yang datang kepada saya untuk berkonsultasi. Setiap masalah yang datang, tetap saya kasih saran penyelesaian rasional. Tapi, kalau semua sudah buntu, baru saya kasih jalan yang lain, yang sifatnya spiritual.

Anda merasa punya kemampuan supranatural, sehingga dianggap dukun?
Enggak. Kita hanya memenuhi persyaratannya, tapi yang melakukan Tuhan. Kalau ada yang sembuh, itu bukan karena saya. Tuhan yang menentukan.

Benarkah Anda memiliki massa yang fanatik?


Saya tidak mengatakan saya punya massa. Bahwa saya punya teman banyak, iya. Bahwa saya merasa dekat dengan orang kecil, iya. Tukang-tukang angkut barang malah lebih dekat dengan saya. Saya bukan orang besar. Saya orang biasa. Kalau saya orang besar, saya terbatas.

Karena melihat Anda punya massa, Anda dulu pernah dirangkul PPP...

Saya tidak pernah di PPP. Waktu dulu itu, acara dialog dengan PPP, bukan kampanye PPP. Saya hanya menjadi tamu PPP. Kalau wartawan memberi cap saya sebagai orang yang berkampanye untuk PPP, ya, silakan. Padahal, kalimat saya yang pertama saja begini, "Saya salut kepada PPP yang dengan jantan dan demokratis berani mengundang orang independen seperti saya. Bagus itu."

Lantas, apa motivasi Anda untuk tetap independen?

Bagi saya, itu mempersempit. Kampanye itu wilayah yang sempit. Kalau kampanye, kita tidak bisa kontemplatif. Sekarang ini situasi saya selalu kontemplatif. Saya tidak butuh orasi. Kalau kampanye kan harus ada orasi. Bagi saya, orasi itu diperlukan kalau pas perang. Kalau situasinya darurat, kita harus perang melawan musuh, saya mau tampil sebagai orator, seperti Bung Tomo dulu. Kalau saya kampanye di PPP, saya harus memaki-maki Golkar? Atau kalau saya di Golkar, saya harus teriak memaki-maki yang lain? Saya enggak mau memaki-maki. La, "wong" saya ingin adil, kok. Kalau Golkar mengerjakan demokratisasi, saya dukung. Semua potensi demokratis di mana pun saya dukung. Harus begitu....[]

KAMUS SINGKATAN TERBARU

KPK (Kurang Peka Korupsi)//
DPR (Dewan Penipu Rakyat)//
MPR (Majelis Penindasan Rakyat)//
POLRI (POL-polan Rebutan Inventaris)//
MK (Mahkamah Korupsi)//
MENTERI (MEncurangi Negara,TErus Rampok Inventaris)//
PRESIDEN.....???

HaHAHA... do wedi karo SBY....//
Category: 0 komentar

Kembali tentang ETIKA


“Seandainya seorang mencari kayu bakar memikul kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya, maka itu lebih baik daripada ia meminta-minta.”
Hadist Bukhari dan Muslim.

Ingat hukum fisika dasar tentang Hukum Aksi-Reaksi? Bahwa sebuah Aksi akan menciptakan reaksi. Teori dasar inilah yang pula mengilhami saya tentang hukum alam, hukum karma, dan tentunya dengan tema kapitalism yang sedang kita perbincangkan. Berilah yang terbaik, maka anda akan mendapatkan yang lebih baik daripada yang telah anda berikan! Perilaku buruk Anda pasti akan menghantui setiap langkah. Kata Tuhan dalam Qur’an لها ماكسبت وعليها مااكتسبت Reaksi energi kebaikan dan keburukan tergantung pada energi apa yang kita tuangkan. Inilah hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk.

Sri Mulyani Kembali Serang Musuh-Musuhnya

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK--Dari posisi barunya yang prestisius sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati kembali melancarkan tusukan berikutnya kepada musuh-musuh lamanya, tanpa menyebutkan nama musuh-musuhnya itu, demikian The Jakarta Globe dalam edisi 11 November 2011.
Category: 0 komentar